Strategi Efektif dalam Pemberian Bantuan


Introduction to Strategies

Selama masa transisi dalam tumpang tindihnya tahap 1 (perkembangan hubungan) dan tahap 2 (rencana strategis, implementasi, dan evaluasi) dalam ‘helping process’, para helper dan helpee harus mencari tujuan dan objektif dalam ‘helping relationship’; baru kemudian mereka berfokus pada kebutuhan yang lebih spesifik dan akhirnya menyutujui tujuan yang ingin dicapai. Supaya transisisi diatas bisa sukses, masing-masing helper dan helpee harus mendefinisikan masalah-masalah yang akan diselesaikan , serta sifat bantuan yang akan diselesaikan. Hal ini terjadi dalam konteks ketika membantu, jumlah yang sesi diperbolehkan, panjang sesi, kemungkinan sesi resmi lebih lanjut, dan sebagainya.

Setelah pendefinisian masalah, maka telah ada kemungkinan untuk memilih strategi yang cocok atau kombinasi strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Variabel timing, setting, dan sifat maupun konteks atas masalah yang hadir akan mempengaruhi bagaimana mengendalikan periode transisi, serta strategi apa yang akan digunakan. Dalam hal ini penting untuk memilah dan mengelompokan serta mengalamatkan masalah-masalah yang ada pada klien.

Strategies and The Three Main Problem Areas

Strategi dalam ‘helping’ dapat dikategorisasikan menurut salah satu kondisi yang sejalan dengan domain afeksi, kognitif, ataupun tingkah laku. Domain afeksi meliputi masalah yang berkaitan dan sejalan dengan emosi-dengan kesadaran diri sendiri maupun kesadaran dari perasaan orang lain. Untuk jenis-jenis masalah, strategi experiential berfokus pada citra, kesadaran sensorik, dan ekspresi verbal dan non verbal perasaan yang efektif.

Masalah kognitif melibatkan pemikiran (misalnya, bagaimana Anda menafsirkan situasi dan peristiwa, membuat keputusan, dan memecahkan masalah). orang-orang yang selalu tampaknya membuat keputusan yang salah atau yang takut untuk membuat keputusan atau yang menolak untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka dapat menggunakan bantuan di daerah ini. Strategi instruksional yang berfokus pada proses verbal yang bertahap dalam pembuatan keputusan, analisa, maupun ‘problem solving’.  Masalah ‘behavioral’ melibatkan aksi (contohnya, berhenti merokok). Strategi yang tepat ialah instruksi  verbal dan ‘action oriented’ yang menyusun iklim perubahan.

 Affective Strategies

Dasar pemikiran rasional teoritis strategi afektif berasal dari terapi yang berpusat pada klien Carl Roger dan teori Gestalt yang ditekankan pada terapi Gestalt. Fokus dari strategi ini adalah kesadaran diri dan perasaan atas pengalaman-pengalaman. Terapi yang berpusat pada klien oleh Roger berkontribusi pada dasar-dasar untuk kemampuan berkomunikasi mendengarkan responsif. Kondisi di mana helper melalui komunikasi yang empatis, jujur, tulus, dan menerima helpee apa adanya dapat menciptakan suasana yang tidak mengancam, di mana helpee dapat menggali perasaan, pemikiran, dan tingkah laku mereka sendiri serta dapat meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam atas diri mereka dan dunianya.

Teori Rogerian berkaitan dengan variabel lingkungan agar helpee dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Agar teknik ini menjadi efektif, helpee harus mampu memahami perasaan dan tindakan sebagai bagian dari helper. Di sisi lain, strategi Gestalt secara spesifik berfokus pada kesadaran. Tujuan dari strategi Gestalt dalam strategi afektif ini adalah untuk mengintegrasikan perhatian dan kesadaran sehingga helpee dapat bertanggung jawab atas apa dan bagaimana tindakan yang mereka lakukan pada saat ini. Berikut adalah beberapa aturan dalam menjalankan terapi Gestalt :

  1. Gunakan frase “di sini” dan “sekarang” untuk fokus pada masa kini dan orang tersebut berada di sini.
  2. Gunakan kalimat langsung, seperti “saya” bukan “hal ini/itu”.
  3. Jangan membicarakan orang yang tidak ada di tempat pada saat itu.
  4. Paksa klien untuk memiliki perasaan, pemikian, dan tindakan mereka sendiri dengan menggunakan kata “saya”, atau “saya bertanggung jawab atas”
  5. Arahkan klien untuk mengambil tindakan nyata bukan imajinasi atau pemikiran semata.

Permainan seperti “dialog”, “saya bertanggung jawab atas”, “pembalikan” mendorong pada gaya komunikasi verbal yang berorientasi pada masa kini dan bertanggung jawab. Dalam permainan seperti ini, klien menghadirkan orang yang tidak ada di tempat melalui role-playing, baik melalui dialog dan memainkan semua peran termasuk objek yang tidak bisa digambarkan dalam mimpi dan sebagainya.

Tujuan dari teknik verbal dalam strategi Gestalt bertujuan menjaga helpee untuk melakukan kontak secara konstan terhadap apa yang terjadi pada saat itu. Berikut adalah beberapa aturan dalam teknik verbal :

  1. Jagalah komunikasi antara helper dan helpee dalam kondisi “saat ini” melalui penggunaan kalimat present tense dan menekankan pada “apa yang terjadi pada saat ini”.
  2. Gunakan kata “saya” untuk mempersonalisasi dan komunikasi searah.
  3. Gunakan kata “saya” sehingga helpee berasumsi lebih bertanggungjawab atas tindakannya.
  4. Tetap terus gunakan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”, bukan “mengapa”, di mana hal ini akan membantu klien untuk menjauhkan dirinya dari penjelasan, spekulasi, dan intrepretasi akan suatu hal tertentu.
  5. Ubah pertanyaan menjadi pernyataan, yang mana membantu mencegah permainan manipulatif.
  6. Jangan membicarakan orang yang tidak ada di tempat pada saat itu.

Terdapat beberapa aturan pendahuluan berdasarkan petunjuk di bawah ini (Levitsky & Pearls, 1970) :

  1. Pusatkan pembicaraan pada masa kini bukan masa lampau atau masa depan.
  2. Pusatkan pada hal-hal yang ada pada saat itu bukan pada hal yang tidak ada pada saat itu di tempat.
  3. Jangan berimajinasi, alami sesuatu yang nyata.
  4. Jangan memikirkan, merasakan, dan melihat hal-hal yang tidak penting.
  5. Ekspresikan hal tersebut, bukan memanipulasinya, menjelaskan, menjustifikasi, atau bahkan menilainya.
  6. Kembangkan kesadaran dengan memberikan kondisi yang tidak mengenakkan, rasa sakit, dan kenikmatan.
  7. Jangan gunakan kata “seharusnya”, dan mengikuti suatu tujuan tertentu.
  8. Ambil tanggung jawab penuh atas tindakan, perasaan, dan pemikiranmu sendiri.
  9. Jadilah diri sendiri.

Meskipun permainan-permainan dalam teknik Gestalt terlihat aneh dan gila, tetapi teknik ini sangatlah efektif dalam meningkat hubungan kepercayaan, di mana helpees akan bersedia untuk terlibat dalam teknik bercerita ini.

AFFECTIVE-COGNITIVE STRATEGIES

Dasar teori strategi afektif-kognitif adalah teori developmental psychodynamic. Tujuan utamanya adalah membawa materi alam ketidaksatadaran (unsconcious) ke dalam alam sadar, sehingga untuk memperkuat ego agar bertingkah-laku sesuai dengan pikiran sadar dibandingkan dengan insting ketidaksadaran.  Tujuanya adalah untuk mengurangi efek ketimpangan atas kekhawatiran internal, yang menyebabkan keduanya (kesadaran emosional dan pemahaman kognitif) dari repress.

Techniques

Teknik utama bagi bagi pekerja psikodinamik adalah free association (asosiasi bebas), dream analysis (analisis mimpi), dan intrepretasi. Ketiga teknik ini merupakan teknik verbal yang mengizinkan helpees untuk menjalankan langah yang mereka miliki untuk mengembangkan perpindahan hubungan dengan helper dan pekerjaan melalui ketidaksadaran (unsconsious) konflik. Tujuan dari asosiasi bebas dan analisis mimpi adalah mengizinkan helpee untuk menjadi secara gradual sadar atas kedalaman material unsconcious. Fokusnya pada pengelaman masa kecil, untuk memungkinkan klien memahami hubungan antara masa lalu dengan fungsinya masa kini. Watkins mengusungkan lima jenis pola pemindahan yang sering ditemui pada hubungan konseling, konselur dapat dipahami dan duperlakukan sebagai (a)Ideal, (b Seer, (c)Nurturer, (d) Frustrater, (d) non-entity. Setiap tipe mempengarahi bagaimana klien menanggapi dan berperilaku terhadap helper.

When to Use Affective-Cognitive Strategies.

Strategi ini biasanya digunakan pada klien yang memiliki trauma kronis atau ketelantaran/pengabaian masa kanaknya, dan deprivasi. Strategi kognitif menekankan pada rasionalitas, proses berpikir, arti/maksud, dan pemahaman. Serta pondasi teorinya adalah informasi dan sistem pembuatan keputusan.

Techniques

Teknik pembuatan keputusan digunakan pada masalah kognitif karena keputusan merukapan proses kognitif. Hal ini penting untuk membantu orang belajar tentang keterampilan pembuatan kebijakan sehingga mereka akan mendapatkan kebebasan lebih dan mengontrol kehidupan mereka sendiri. Adapun proses dasar yang direkomendasikan pada hubungan pertolongan adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan masalah secara jelas
  2. Identifikasi dan menerima orang yang memiliki masalah
  3. Mengusungkan setiap kemungkinan alternatif terhadap masalah (brainstorming)
  4. Mengevaluasi setiap usungan alternatif pada implementasi realitas dan hipotesis konsekuensi (klarifikasi nilai)
  5. Mengkaji ulang list akhir alternatif, konsekuensinya, dan resiko yang ada.
  6. Menentukan satu alternatef untuk di implementasikan
  7. Menentukan bagaimana dan kapan proses implentasi direncanakan.
  8. Menjeneralisasi pada situasi lain :
  9. Mengevaluasi implentasi yang sudah dilakukan.

COGNITIVE-BEHAVIORAL STRATEGIES

Merupakan pendekatan yang melihat proses berpikir dan bertingkah laku. Mereka berbasis dari premis dimana kesalahan berpikir harus diubah sebelum perubahan tingkah laku yang efektif itu terjadi. Rasionalitas dan tanggungjawab merupakan konsep kunci dalam pendekatan ini.

Teknik

Secara garis besar teknik yang dibutuhkan merupakan komunikasi verbal dan membantu hubungan untuk memfasilitasi perubahan pemikiran baru kedalam pola pola tingkah laku. Model terapi emosi rasional telah berkontribusi dalam keefektifan strategi restrukturisasi pemikiran. Strateginya termasuk teknik mendidik seperti pengajaran, persuasi dan berhadapan, dan melaksanakan tugas. Tujuan dari restrukturisasi pemikiran adalah untuk membantu helpee untuk mengontrol emosinya dengan mengajarkan mereka untuk lebih rasional, sedikit mengalahka ego dan meyakinkan mereka dari ketidaklogisan dari beberapa ide irasional yang diidentifikasikan oleh Albert Ellis (1962).

  1. Hal yang mengerikan untuk saya merasa dicintai atau diterima oleh semua orang untuk apapun yang saya lakukan.
  2. Sikap tertentu yang salah dan jahat, dan orang yang melakukan sikap ini harus dihukum.
  3. Sangat buruk, mengerikan dan bencana ketika sesuatu tidak berjalan dengan semestinya.
  4. Kebanyakan manusia tidak bahagia karena penyebab eksternal dan tekanan dari orang dan kejadian diluar diri.
  5. Jika sesuatu itu menakutkan atau berbahaya, saya harus fokus terhadap hal tersebut.
  6. Sangat mudah untuk menghindari dibandingkan menghadapi kesulitan hidup dan tanggungjawab diri.
  7. Saya butuh sesuatu yang lain atau yang kuat atau yang lebih hebat dibandingkan dirisaya yang dapat dipercaya.
  8. Saya harus sepenuhnya kompeten, memadai, intelek dan sukses dalam semua keadaan yang memungkinkan.
  9. Karena sesuatu sekali yang kuat mempengaruhi kehidupan saya, saya harus mempengaruhi hal tersebut.
  10. Kebahagiaan seseorang dapat diraih oleh kelembaman dan kelambanan.
  11. Saya tidak dapat mengontrol emosi saya, dan sulit untuk merasakan beberapa hal tertentu.

Helper yang menggunakan teknik kognitif-behavioral secara kontinyu membuka kesalahan pemikiran helpee dengan membawa itu kedalam perhatiannya, menunjukan mereka bagaimana pemikiran irasional merupakan basis dari masalah mereka, mendemostrasikan hubungan diantara masalah, dan mengajarkan helpee bagaimana memikirkan ulang dan verbalisasi ulang dan merestrukturisasi pemikiran menjadi lebih logis. Helper secara langsung kontradiksi dan menolak kata-kata yang salah bahwa helpee mengulanginya, dan permintaan bahwa helpee terlibat dalam beberapa aktivitas yang akan bersikap sebagai orang yang mempropraganda terhadap sistem kepercayaan yang salah. Dalam sistem A-B-C-D-E, A merupakan kejadian yang aktif, B merupakan sistem kepercayaan, C merupakan konsekuensi, D merupakan ide irasional yang diperdebatkan, dan E merupakan emosi baru dari sebuah konsekuensi atau dampak.

Penyesuaian dengan pendekatan Ellis, maka ide rasionalnya adalah:

  1. Hal yang tidak mengerikan untuk saya menerima cinta dari satu orang atau mendapatkan dari semua orang terdekat. Satu dapat berkonsentrasi dengan mencintai dibandingkan dengan dicintai.
  2. Akan sangat baik apabila tidak menentukan kelayakan diri terhadap kompetensi ideal eksternal, kecukupan, dan pencapaian namun juga fokus kedalam menghormati diri dan memenangkan persetujuan untuk sikap yang diambil.
  3. Salah dalam sikap tidak harus dipersalahkan atau dihukum namun harus dipertimbangkan sekedar kebodohan atau gangguan emosional.
  4. Salah satu ketidakbahagiaan dikarenakan atau bekerlanjutan karena pandangan yang mengambil sesuatu dibandingkan oleh sesuatu itu sendiri.
  5. Apakah sesuatu tersebut berbahaya, seseorang harus menghadapi itu dan mencoba untuk membuat tidak berbahaya, dan tidak membuat malapetaka untuk hal tersebut.
  6. Satu satunya cara untuk memecahkan masalah yang sulit adalah untuk menghadapinya secara jujur.
  7. Akan lebih baik untuk berdiri sendiri dan meraih keprcayaan pada diri sendiri dan kemampuan diri sendiri untuk bertemu keadaan sulit dari kehidupan dibandingkan bergantung dengan orang lain.
  8. Satu yang harus diterima dalam diri adalah sebagai seseorang yang tidak sempurna dengan segala keterbatasan manusia pada umumnya dan kekeliruan yang spesifik.
  9. Satu yang harus dipelajari dari masalalu namun tidak secara berlebihan terlekat atau dirugikan oleh masa lalu tersebut.
  10. Segala kekurangan dan kelemahan orang lain adalah masalah mereka, dan menaruh tekanan kepada mereka untuk berubah merupakan hal yang mereka tidak sukai untuk dibantu.
  11. Seseorang biasanya bahagia ketika mereka secara aktif atau tersedot perhatiannya dalam memenuhi pencarian diluar diri mereka.
  12. Harus memiliki kontrol dari emosi jika digunakan untuk bekerja dalam mempelajari hal baru, berbagai macam pemikiran rasional.

Helper menggunakan teknik terapi realitas yang akan melibatkan helpee, yang dapat memulai untuk mengevaluasi tingkah laku dan melihat apa yang tidak realistis. Helper menghadapi klien dengan realitas dan menanyakan mereka kembali dan lagi untuk memutuskan apakah mereka mengambil jalan yang dapat dipertanggungjawabkan. Helper kemudian menanyakan klien untuk membuat perencanaan spesifik dan untuk mengambil tanggungjawab untuk mengimplementasikannya. Helper dapat menolak tingkah laku yang tidak realistis namun masih menerima helpee dan tetap menghormati mereka. Helper mengajarkan helpee mencari cara yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhannya tanpa melukai dirinya dan orang lain. Helpee berasumsi tanggung jawab terhadap tingkah lakuya, pekerjaannya pada masa sekarang, pembelajaran untuk pengkajian moral dari tingkah lakunya dan mempelajari cara yang lebih efektif dalam bertingkah laku. Terapi tingkah laku kognitif menggunakan jarak yang luas dari strategi inti yang bekerjasama dengan teknik kognitif dan tingkah laku. Membantu klien untuk memiliki kesadaran dan menjauhi kesalahan pemikiran akan mencegah kesalahan yang sama di masa depan.

Teknik tingkah laku kognitif termasuk evaluasi dan menghamiki dalam bagian dari helper, yang melabeli pemikiran dan tingkah laku helpee yang rasional atau irasional, bertanggungjawab atau tidak. Helper tidak bergantung pada pemaksaan sistem nilai kepada helpee, namun mereka mengkaji dan mengevaluasi nilai-nilai dari helpee. Dengan kata lain, helper membantu helpee namun tidak menghukum mereka atau menolak mereka karena tidak memiliki nilai yang benar.

When to Use Cognitive-Behavioral Strategies

Pendekatan ini telah digunakan dengan berbagai macam populasi, di sekolah, rumah sakit, industry, dan institusi. Pendekatan terapi rasional emosional tidak dapat efektif dengan helpee yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengikuti analisis rasional atau untuk mereka yang memiliki emosional yang tinggi mereka tidak dapat hadir dalam prosedur logis ini. Terapi realita ini melibatkan lebih banyak pengetahuan umum untuk kemajuan dan juga telah digunakan dengan spectrum yang lebih luas dari populasi. Terapi tingkah laku kognitif beck ini telah efektif digunakan dengan klien yang depresi dan sekarang diaplikasikan dengan orang yang memiliki gangguna yang lebih luas. Terapi ini membutuhkan kemampuan verbal dan motivasi untuk berubah dalam diri klien.

BEHAVIORAL STRATEGIES

Strategi ini didasari oleh teori belajar dan focus pada perilaku manusia yang spesifik dan objektif. Strategi ini digunakan untuk mengubah perilaku yang tidak tepat menjadi tepat. Asumsinya adalah dengan adanya perubahan dari perilaku, perasaan, dan pikiran dapat memudahkan helper dalam mengevaluasi keefektifannya hanya dengan mengobservasi perubahan perilaku yang spesifik.

TEKNIK

Seorang helper harus memiliki kemampuan berikut :

  • Mengerti konsep-konsep dari ‘reinforcement’, ‘punishment’, ‘extinction’, ‘discrimination’, ‘shaping’,
  • Kemampuan untuk mengidentifikasikan perilaku apa yang ingin diubah oleh helpee
  • Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan menilai kondisi ang dialami helpee sebelumnya
  • Kemampuan untuk mengumpulkan data-data dasar mengenai seberapa sering dan seberapa parah perilaku helpee tersebut
  • Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan menilai kondisi-kondisi yang merupakan hasil dari perilaku sasaran tersebut dan mencoba mempertahankan itu.
  • Kemampuan untuk menentukan ‘reinforcement’ yang bermakna untuk helpee
  • Kemampuan untuk menentukan jadwal dari ‘reinforcement’ yang layak
  • Pengetahuan yang cukup mengani framework theory, rancangan dan cara pengaplikasian berbagai strategi

Strategi ini banyak diberikan kepada guru, orang tua, dalam kantor, sekolah dan organisasi kesehatan. Banyak pekerja social generalist dalam HSO dan professional membantu dalam implementasi dari strategi ini. Beberapa teknik behavioral penting akan didiskusikan pada bab ini, yaitu :

  1. Modeling à Berdasarkan prinsip bahwa seseorang belajar untuk berperilaku dengan cara baru dengan cara mengikuti perilaku, nilai, sikap dan kepercayaan dari orang tertentu. Modeling ini bisa dicapai melalui bermain peran, penggunaan media, dan hubungan individu maupun kelompok. Dalam helping relationship helper adalah model. Dalam strategi modeling ini sangat penting memperhatikan pengaruh dari model tersebut terhadap helpee dan juga positif dan negative model dalam aspek lain dari kehidupan
  2. Contracting à Merupakan dasar dari teori ‘reinforcement’ yang mengatakan bahwa perilaku ‘reinforced’ harus diulang-ulang. Perilaku contracting merupakan strategi persetujuan antara helper dan helpee dengan menguraikan perilaku target menjadi bagian-bagian kecil dan memberikan reinforcements systematic bagi performa perilaku. Dalam melakukan kontrak harus mengikuti aturan dasar yang dibuat oleh Homme (1970), yaitu :
  • Gunakan reward secara bebas dan sesegara mungkin diikuti oleh kinerja
  • Harus memahami dengan jelas semua bagian-bagian
  • Harus dinyatakan dalam hal positif, artinya adalah menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan

Dengan melakukan kontrak untuk helping relationship memiliki keuntungan dalam hal yang postif apa yang telah diekpektasikan helpee dan apa yang akan diterima untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Kontrak memungkinkan beberapa pergerakan dan pertumbuhan dalam hal masalah, menghasilkan kepercayaan diri yang tinggi dan perhatian yang memungkinkan tersebut beralih ke area lain.

  1. Assertive Training à Digunakan dalam aspek kognitif dimana pelatihan ini dapat melibatkan perubahan pada system kepercayaan helpee dengan mengajarkannya bahwa mereka harus memperjuangkan hak mereka selama itu tidak berdampak buruk terhadap orang lain atau mengganggu hak orang lain. Metode asertif ini melibatkan adanya permainan peran successive approximations dari respon yang diharapkan. Dengan latihan terus menerus yang dilakukan oleh helpee, bisa mengubah system kepercayaan helpee dan sangat percaya bahwa mereka memiliki hak mereka sendiri.
  2. Systematic Desensitization à Melibatkan penguraian perilaku cemas dalam merespon suatu hal dan menunjukan helpee untuk membayangkan perilaku tersebut dalam keadaan relaksasi fisik yang dalam. Teori mengatakan bahwa respon yang cemas itu telah dikondisikan (dipelajari) dan bisa menjadi Cara untuk membuat hal tersebut menjadi unlearned adalah memasangkan respon-respon tersebut dengan keadaan yang bertentangan, dalam kasus ini kondisi fisiologis dari relaksasi yang menghambat kecemasan. Stimuli kecemasan akhirnya kehilangan potensinya dan helpee tidak lagi butuh untuk mengeluarkan energinya dalam respon cemas ini. Rasanya tidak mungkin bahwa pekerja pelayanan manusia akan mengaplikasikan serangkaian sistem desensitization, tetapi dalam tahap awal saat mendorong deep muscle relaxation sangat membantu dan sangat mudah untuk diaplikasikan. Biasanya relaksasi tersebut membutuh 2 sampai 3 sesi supaya efektif dalam mengajarkan relaksasi tersebut. Diantara sesi-sesi tersebut, helpee diminta untuk latihan kemampuan setidaknya sekali sehari. Helpee diajarkan untuk kontraksi dan merelekskan otot-otot tertentu untuk beberapa menit sampai mereka belajar untuk memonitor relaksasi mereka sendiri. Sebelum memulai latihan ini, helper menjelaskan proses nya kepada helpee bahwa hal ini mudah untuk kontaksi dan relaksasi dalam waktu yang bersamaan. Latihan kemampuan ini membutuhkan latihan yang efektif dan berkelanjutan. Saat awal latiha, helpee duduk di sofa yang nyaman untuk otot-ototnya. Mata ditutup (bila helpee menggunakan kaca mata atau lensa kontak diharapkan dilepas), kepala menyender ke sofa atau dinding, lengan diletakan disamping sofa dan kaki menyilang di lantai. Latihan relaksasi ini dimulai setelah helper memberikan arahan kepada helpee. Dan lebih baiknya lagi bila lampu dalam ruangan tersebut dimatikan.

Jika desensitization mengikuti, hal tersebut dalam keadaan relaks helper meminta helpee untuk mengatakan adegan yang berbeda dalam pikirannya, yaitu ada adegan yang netral (hanya gambaran blank) yang tidak membangkitkan perasaan apapun, adegan yang nyama dimana dapat menimbulkan perasaan yang nyaman, adegan kecemasan yang akan menimbulkan perasaan cemas. Adegan yang membuat kecemasan yang pertama kali diberikan untuk 10 detik pertama dan diikuti dengan adegan menyenangkan dan dengan konsentrasi yang relaks, kemudian diberikan dalam waktu 20 detik dan terus, setelah adegan yang lebih menyenangkan lagi dalam 40 detik. Jika kecemasan muncul, helpee memberikan tanda kepada helper dan adegan kecemasan pun dikurangi. Hal kecemasan dianggap sukses ketika subjek bisa membayangkannya dalam waktu 40 detik tanpa mengalami kecemasan. Tingkatan desensitization terbentuk selama 2 sesi latihan relaksasi pertama. Contoh tingkatan yang digunakan untuk tes ini, yaitu :

  1. Berjalan ke kelas
  2. Dosen mengatakan bahwa ujian akan berlangsung 2 minggu lagi
  3. Melihat catatan teman
  4. Memperoleh banyak referensi untuk belajar
  5. Berdiskusi di kelas dengan teman
  6. Belajar diminggu ujian
  7. Belajar dimalam sebelum ujian
  8. Bangun pagi-pagi untuk ujian
  9. Berjalan ke kelas
  10. Ujian dimulai, dan kamu sudah mendapatkan lembar soal ujian
  11. Ketika kamu mencoba memikirkan jawaban untuk semua pertanyaan, kamu melihat disekeliling kamu menulis jawaban dengan cepatnya
  12. Kamu mendapati pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab
  13. Dosen mengatakan bahwa waktu tinggal 40 menit lagi, kamu hanya memiliki waktu setengah jam untuk menyelesaikannya

Ketika penyebab kecemasan merupakan sesuatu yang bisa di tes dalam helping relationship, kamu bisa membuktikan kebenaran dari desensitization klien. Contohnya klien yang phobia berkendara. Setelah mengurangi kecemasannya melalui metode tadi, helper meminta klien untuk mengendari mobil helper.

USING BEHAVORAL STRATEGIES

Strategi ini efektif digunakan untuk semua kalangan, terutama untuk mereka yang mengalami masalah dalam strategi verbal. Strategi ini merupakan strategi yang paling cepat dilakukan. Strategi modeling sangat efektif untuk mereka yang ragu pada diri mereka sendiri dan membutuhkan contoh pengajaran khusus. Sedangkan contracting sangat membantu mereka yang memiliki perkembangan yang lambat dari orang normal lainnya dan strategi ini sangat efektif didalam keluarga dan organisasi dimana reinforcement bisa dengan cepat diberikan dan dimonitor. Assertive training juga membantu bagi mereka yang malu, orang yang agak ‘terhambat’. Systematic desensitifization juga membantu untuk mereka yang mengalami phobia.

STRATEGIES THAT CUT ACROSS DOMAINS

Penurunan di seluruh domain afektif, kognitif, dan perilaku adalah terapi multimodal, strategi system dan ekologi, serta pendekatan multicultural dan feminis. Ini adalah pendekatan pluralistic yang didalamnya menarik banyak dasar teoritis dari pendekatan lain. Strategi pluralistic dapat digunakan ketika masalah helpee tidak jelas jatuhnya menjadi satu domain, ketika terjadi tumpang tindih dalam dua atau tiga domain dan terjadi ketika masalah bersifat individual, interpersonal, dan atau berkaitan dengan lingkungan seseorang.

Ecological/Systems Strategies

Sistem strategi yang dipilih ketika tujuannya adalah untuk meningkatkan observasi dan kemampuan komunikasi helpees dan hubungan mereka di dalam dan di luar keluarga mereka. Fokusnya adalah pada proses interpersonal. Masalah individu adalah dianggap hanya dalam konteks sistem relasionalnya, terlepas dari berapa banyak orang dalam sistem datang untuk membantu. Dengan demikian, fokusnya adalah pada interaksi antara individu dan asumsi adalah bahwa masalah dan pemecahan masalah melibatkan semua anggota sistem. Tujuan dari strategi intervensi untuk menyelesaikan masalah dengan menata ulang keluarga (atau hubungan lain) sistem (seperti ruang kelas, tempat kerja). Hal ini membutuhkan perubahan komunikasi dan pola hubungan. Teknik sistem yang digunakan dapat mencakup penyusunan kembali masalah dari perspektif system. Sistem terapi sering memilih teknik dari model utama lainnya untuk melaksanakan tujuan mereka. Sistem teori baru baru ini memberikan perhatian khusus pada jenis kelamin, ras, dan variabel etnis yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Teknik-teknik khusus meliputi: menentukan gelaja, mengukir keluarga, meenggambar genogram, menggambar ecomap, dan pertanyaan yang melingkar.

Perspektif ekologi menekankan kesesuaian antara individu dan lingkungannya. Tujuan penting adalah untuk membingkai ulang dari perspektif multi persepsi individu dari masalah sehingga ia memahami pengaruh variabel lingkungan. Banyak klien di kelompok non dominan menganggap kesalahan dan tanggung jawab untuk masalah mereka tanpa mengakui kekuatan variabel eksternal. Sistem intervensi dapat dimanfaatkan untuk menangani sistem sosial yang lebih besar. Strategi meliputi advokasi berorientasi aksi dan perubahan agentry. Unsur-unsur tertentu yang direkomendasikan oleh Steenbarger (1993) meliputi ini: empati, rekonstekstualisasi, persekutuan, pemberdayaan, dan beberapa target perubahan.

When To Use Ecological/Systems Strategies

Perpektif ekologi dan system adalah yang paling penting di dalam semua kasus, dalam semua pengaturan system manusia karena tidak ada yang hidup di ruang hampa. Kita harus mempertimbangkan bagaimana masalah individu berkontribusi pada sistem di mana individu tersebut berada dan bagaimana individu secara simultan dipengaruhi oleh sistem ini. Dengan demikian, pendekatan ini efektif bila diterapkan pada masalah interpersonal, untuk menyesuaikan buruk antara seseorang dan lingkungan nya, dan untuk orang-orang yang mengalami devaluasi, diskriminasi, atau penindasan. karena ras, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan fisik atau cacat, etnis, atau beberapa jenis lain dari penindasan sosial.

 

Rangkuman ditulis oleh : Ahmad Rofai, Anggara Yudha, Citra Amalia, Elfha Savira, Enciro Chandra, Rakha Gusti.

REFERENSI

Okun, Barbara F. (2002). Effective Helping: Interviewing and Counseling Techniques. 6th edition. California: Brooks/Cole.

 

Sumber gambar: elementdigital.co.nz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: