FILSAFAT


Tulisan Resume oleh

Ahmad Rofai

2014, Universitas Indonesia

Judul sumber   : Kekuatan dan Keutamaan Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika

Penulis             : Bagus Takwin, Fristian Hadinata, Saraswati putri

Penerbit           : Universitas Indonesia

Pendahuluan

Filsafat ilmu erat kaitanya dengan asumsi, fondasi, metode, dan implikasi dari ilmu pengetahuan, kajian ini juga berkaitan dengan penggunaan dan manfaat ilmu pengetahuan, serta ekplorasi apakah hasil ilmiah sungguh-sungguh menghasilkan kebenaran. Filsafat ilmu juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak atau belum dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Weiner heisenberg memiliki sebuah karya yang berjudul physics and philosophy memberikan sebuah indikasi bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan itu saling membutuhkan.

Terdapat tiga bidang kajian filsafat yang dibutuhkan ilmu pengetahuan untuk menjadi dasar pencarian jawaban ilmu pengetahuan. Yakni:

  1. Etika, seorang dituntut bertindak secara etis, baik dalam mencari maupun menerapkan ilmu pengetahuan.
  2. Epistemologi, diperlukan memberi dasar atas adanya jawaban atau pencarian pengetahuan
  3. Logika, ilmuwan dituntut untuk memiliki rasionalitas dalam berpikir.

Karakter dan filsafat memiliki hubungan yang saling menguatkan, karena berfilsafat tidak hanya Menggunakan pikiran, tetapi juga melibatkan keseluruhan diri dalam mencari kebenaran. Filsafat yang berarti cinta kebenaran menuntut orang yang menekuninya memiliki keutamaan pengetahuan dan kebijak sanaan beserta kekuatan-kekuatan yang tercakup kedalamnya. Aktivitas dalam filsafat, mencakup kegiatan berpikir, mencari kemungkinan lain dari situasi, menjaga kesetiaan, berani mengambil resiko, dan sebagainya yang juga merupakan aktivitas menguatkan karakter.

Pengertian Filsafat

Kata filsafat pertama kali ditemukan dalam tulisan sejarawan Yunani Kuno, Herodotus (484-424 SM). Kata filosof atau filsuf berasal dari kata philosophos yang berarti pecinta kebijaksanaan; philos berarti kebijaksanaan, dan sophos berarti pecinta. Pengertian filsuf menurut xenofon dan plato dalam tulisan mereka adalah orang yang mencurahkan diri dan hidupnya untuk mencari kebijaksanaan atau melakukan pembelajaran. Filsuf mencari kebenaran.

Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankanya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf, mereka adalah pecinta kebijaksanaan. Apa yang dilakukan oleh filsuf kemudian diesebut filsafat. Filsafat sendiri dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk memahami segala perwujudan kenyataan secara kritis, radikal, dan sistematis.

Istilah kritis berasal dari bahasa latin kritein yang berarti memilah-milah dan kritikos yang berarti kemampuan menilai. Dipandang secara lebih khusus, kritis berarti terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru, dialektis (menjajaki kemungkinan perpaduan dua hal yang bertentangan), juga merupakan usaha yang dilakukan secara aktif untuk memahami dan mengevaluasi informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi perlu diterima, ditolak, atau ditunggu sampai dapat kejelasan lebih lanjut mengenai informasi.

Istilah radikal berasal dari kata radix yang berarti akar, radikal berarti mendalam, sampai ke akar-akarnya, hal ini didasari oleh pemahaman yang ingin diperoleh oleh filsafat adalah pemahaman yang mendalam.

Berfilasafat dilakukan secara sistematis, yang berasal dari kata systema berarti kateraturan, tatanan, dan saling keterkaitan. Jauh dari itu, sistematis berarti upaya memahami segala sesuatu dilakukan menurut suatu aturan tertentu, rintut dan bertahap, serta hasil ditulis dalam suatu aturan tertentu juga.

Kegiatan filosofis sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran yang sifatnya kritis, tidak begitu saja meneria informasi, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lain, menanyakan “mengapa” dan menemukan jawaban yang lebih baik dari penemuan sebelumnya, suatu perenungan filosofis harus bersifat koheren dan runtut.

Seorang filsuf pada hakikatnya membicarakan tiga hal, yakni, dunia disekitarnya, dunia yang ada didalam dirinya, dan perbuatan berpikir itu sendiri, dalam filasafat tidak boleh ada misteri, misteri adalah sesuatu yang gelap, belum terpecahkan, misteri yang telah terpecahkan turun statusnya menjadi problem, problem dalam artian disini adalah suatu masalah yang dapat dipecahkan, objek filsafat haruslah nyata dan jelas.

Cabang Filsafat

Filsafat secara sistematis terbagi menjadi 3 cabang, yaitu:

Ontologi, berasal dari dua kata latin, onta=ada dan logia=ilmu, kajian, prinsip. Secara umum, ontologi diartikan sebagai studi filosofis tentang hakikat ada, eksistensi, atau realitas, serta kategori dasar keberdaan dan hubungan mereka. Ontologi secara umum dibagi menjadi dua subbidang, ontologi (dalam arti khusus) dan metafisika. Ontologi dalam artian khusus mengkaji “ada” yang keberdaanya tidak disangsikan lagi, kita berfilsafat mengenai sebuah benda yang dapat dirasakan oleh indra, sedangkan metafisika, mengkaji “ada” yang masih disangsikan. Metafisika berhubungan dengan objek-objek yang tidak dapat dijangkau alat indera seperti, jiwa, ilusi, eksistensi tuhan, dll.

Epistemologi, merupakan cabang filsafat yang mengkaji teori-teori tentanng sumber-sumber, hakekat, batas-batas pengetahuan. Dalam epistemologi terdapat empat cabang yang lebih kecil, (1) epistemologi dalam arti sempit, merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakekat pengetahuan yang ditelusuri melalui 4 pokok, (a) sumber pengetahuan, (b) struktur pengetahuan, (c) keabasahan pengetahuan (d) batas-batas pengetahuan. Yang dimaksud adalah pengatahuan umum/sehari-sehari (knowledge),  (2) filsafat ilmu, merupakan cabang filsafat yang mengkaji ciri-ciri dan cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan (science), yang dicari adalah pengetahuan ilmiah, (3) Metodologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang cara dan metode memperoleh pengetahuan secara sistematis, logis, sahih, dan teruji. (4) logika, kajian filsafat yang mempelajari teknik-teknik dan kaidah-kaidah penalaran yang tepat.

Axioloogi, bidang filsafat yang mencoba menjawab pertanyaan, “apa yang dilakukan  dan yang seharusnya dilakukan oleh manusia?”, axiologi mengkaji pengalaman dan penghayatan drai perilaku-perilaku manusia. Cabang filsafat axiologi adalah (1) Etika, cabang filsafat yang mengkaji nilai apa yang berkaitan dengan kebaikan dan berperilaku baik. (2) estetika, mengkaji penilaian terhadap sesuatu apakah itu indah atau tidak.

Aliran Filsafat 

Beberapa aliran yang cukup berpengaruh dalam perkembangan filsafat adalah sebagai berikut:

  1. Rasionalisme   : berpandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumebr dari akal (rasio).
  2. Empirisme       : pengalaman sebagai sumber pengetahuan
  3. Kritisme          : pada dasarnya kritik terhadap rasionalisme dan empirisme. Akal menerima bahan-bahan yang  belum tertata dan pengalaman empirik, lalu mengatur dan menertibkannya dalam kategori-kategori.
  4. Idealisme         : pengetahuan adalah proses mental, proses psikologis yang bersifat subyektif.
  5. Vitalisme         : memandang hidup tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara mekanis, karena manusia memiliki kehendak yang mengubah keadaan statis menjadi dinamis
  6. Fenomenologi : mengkaji penampakan (gejala-gejala) dan kesadaran selalu terkait.

Alternatif Langkah Belajar Filsafat 

Secara umum, filsuf berusaha memperoleh makna istilah-istilah dengan cara melakukan analisis terhadap istilah-isltilah itu berdasarkan pengenalan objeknya dalam kenyataan. Analisis di definisikan sebagai pemilahan bagian-bagian suatu hal berdasarkan kategori yang relevan. Setelah analisis istilah, filsuf memadukan hasil-hasil penyelidikannya melalui aktivitas sintesis. Dalam sistesis, filsuf membanding-bandingkan bagian-bagian makna istilah yang dihasilkan dari aktivitas analisis. Metode ini disebut metode analisis-sintesis.

Menurut kattsof, secara filosofis, analisis merupakan pengumpulan semua pengetahuan yang dapat dikumpulkan oleh manusia untuk menyusun suatu pandangan tentang dunia. Sedangkan sintesisis dapat diartikan sebagai aktivitas menemukan benang merah antar-bagian yang dipilah berdasarkan kategori tertentu untuk kemudian menemukan kesamaan makna diantara bagian-bagian tersebut.

Secara umum, filsafat digunakan manusia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, jika orang menyadari, maka lebih banyak lagi manfaat berpikir filosofis yang diperolah, dengan berfilosofis, orang dapat berpikir mendalam dan mendasar. Orang juga dapat memperoleh kemampuan analisis, berpkir kritis dan logis, sehingga ia mampu berpikir secara luas dan menyeluruh. Berpikir filosofis juga membuat orang dapat berppikir sistematis dalam mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin secara tertata.

REFERENSI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: