Kekuatan dan Keutamaan Karakter


Resume oleh Ahmad Rofai

2014, Uninversitas Indonesia

Sebelum berbicara mengenai karakter, terdapat sebuah kata yang sejatinya erat kaitanya dengan karakter dan melekat pada setiap diri manusia, yakni kepribadian. Sekilas jika kita mencoba untuk mengidentifikasi perbedaan dari kedua kata tersebut memang sulit, namun coba kita lihat definisi kepribadian beserta kaitanya dengan karakter dari sudut pandang ilmuan.

Allport memandang kepribadian adalah sesuatu yang dinamis, yang berarti bahwa kepribadian manusiaakan terus bergerak dan berkembang, tidak berhenti ataupun terhenti dalam satu titik seiring berjalanya waktu. Kaitanya dengan karakter adalah bahwa allport memandang kepribadian yang dievaluai itulah yang disebut karakter. Dengan penjelasan bahwa karakter merupakan segi-segi yang ditampikan keluar dari tingkah dan perilaku manusia dengan penyesuain terhadap nilai dan norma yang berlaku.

Karakter dengan demikian merupakan kumpulan sifat mental dan etis yang menandai seseorang, yang nantinya kumpulan tersebut akan menentukan orang seperti apa pemiliknya. Karakter pula menentukan apakah si pemilik dapat mencapai tujuan hidupnya dengan efisien, menaati norma dan nilai masyarakat yang dianut, atau bahkan sebaliknya, tidak mencapai tujuan hidup dengan efisen serta melanggar norma-norma yang berlaku. Karakter didapat melalui pengasuhan dan pendidikan, untuk memperoleh karakter yang kuat seseorang perlu menjalani serangkaian proses pemelajaran, pelatihan, dan peneladanan, dengan ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada intinya proses pembentukan karakter.

Kita dapat mengenali keutamaan tertentu pada diri seseorang melalui pengenalan terhadap ciri-ciri yang tampil dalam perilaku khusus  dan respon secara umum dari orang tersebut. Peterson dan seligman mengatakan bahwa karakter yang kuat adalah karakter yang bercirikan keutamaan-keutamaan yang merupakan keunggulan manusia. Penggalian, pengenalan, dan pengukuran keutamaan dapat dilakukan melalui teknik inventori, skala sikap, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan simulasi.

Peterson dan seligman mengemukakan tiga level konseptual dari karakter, yakni keutamaan, kekuatan, dan tema situasional dari karakter. Hubungan antara ketiga level tersebut bersifat hierarkis dengan keutamaan berada di level atas, lalu kekuatan dilevel tengah, dan tema situasional berada di level bawah. Ketika kita melihat perilaku dalam situasi tertentu, kita dapat menamainya sebagai tema situasional, dapat dikatakan telah memiliki kekuatan jika dia menujukan perilaku-perilaku tema situasionak dalam beberapa situasi, kemudian, jika dalam berbagai situasi dan dalam rentang waktu yang relatif lama, seseorang menunjukkan berbagai kekuatan tertentu secara konsisten, baru kita dapat mengenali keutamaan orang itu.

Para filsuf dan agamawan menjadikan keutamaan sebagai nilai moral, oleh karenanya keutamaan dianggap sebagai dasar dari tindakan yang baik. Terdapat enam keutamaan yang muncul secara konsisten dalam survei sejarah yang diesebut sebagai keutamaan universal, yang akan dijelaskan di paragraf berikut.

Pertama, kebijaksanaan dan pengetahuan, berkaitan dengan fungsi kognitif tentang bagaimana mendapatkan dan menggunakan ilmu pengetahuan, diantara cakupan kekuatannya adalah sebagai berikut (1)kreativitas, orisionalitas, dan kecerdasan praktis, (2) rasa ingin tahu atau minat terhadap dunia, (3) cinta akan pembelajaran, (4) pemikiran yang kritis dan terbuka, (5) perspektif.

Kedua, kemanusiaan dan cinta yang mencangkup kemampuan interpersonal dan bagaimana menjalin pertemanan dengan orang lain, dengan cakupan kekuatannya adalah sebagai berikut, (1) baik dan murah hati, (2) selalu memiliki waktu dan tenaga untuk membantu orang lain, mencintai dan membolehkan diri sendiri untuk dicintai. Serta (3) kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional.

Ketiga, Kesatriaan (courage), merupakan kekuatan untuk melawan rintangan dan halangan guna mencapai suatu tujuan yang diinginkan, diantara kekuatan yang mencakup kesatriaan adalah (1) menyatakan kebenaran dan mengakui kesalahan, (2) ketabahan dan kegigian, tegas dan keras hati, (3) integritas, kejujuran, dan penampilan diri dengan wajar, serta (4) vitalitas, bersemangat dan antusias.

Keempat, keadilan (justice) mendasari kehidupan yang sehat dan arif dalam bermasyarakat. Adapun kekuatanya mencakupi, (1) kewarganegaraan atau kemampuan mengemban tugas, dedikasi dan kesetiaan demi keberhasilan bersama, (2) kesetaraan (equity and fairness) perlakuan terhadap orang lain atau tidak membeda-bedakan perlakuan yang satu dengan  yang lain, (3) kepemimpinan

Kelima, pengelolaan diri (temperance) merupakan keutamaan untuk melindungi diri dari segala akibat buruk atas perbuatan diri sendiri, diantara kekuatannya mencakupi (1) pemaaf dan pengampun, (2) pengendalian diri, (3) kerendahan hati, dan (4) kehatia-hatian.

Keenam, Transendensi merupakan keutamaan yang menghubungkan kehidupan manusia dengan seluruh alam semesta dan memberi makna kepada kehidupan. Kekuatannya mencakupi, (1) penghargaan terhadap keindahan dan kesempurnaan, (2) kebersyukuran atas segala hal yang baik, (3) penuh harapan, optimis, dan berorientasi ke masa depan, (4) spiritualitas, (5) menikmati hidup dan selera humor yang memadai.

Jauh dari itu, karakter juga sangat erat kaitanya dengan spiritualitas, daya-daya spiritualitas memberi dan mendorong kita untuk dapat melampaui hal-hal tersulit seklipun. Dengan daya spiritualitas, seseorang dapat melebihi batas kemampuan dirinya, karena ada rasa yakin dalam diri menjadi manusia terdepan dan berorientasi pada kemampuan mekanis, terutama ketika tubuh dan otak kita fokus pada satu tujuan tertentu.

Untuk menutup rangkuman ini, terdapat kesimpulan yang telah terangkum dalam subbab karakter dan kebahagiaan, menyatakan bahwa, kebahagiaan akan dapat kita peroleh jika dan hanya jika kita memiliki keutamaan karakter yang kuat dan baik. Sebagai tambahan, seligman  dalam bukunya menyebutkan tiga kebahagiaan, yaitu, memiliki makna dari setiap tindakan yang dilakukan, mengetahui kekuatan tertinggi, serta menggunakan kekuatan tertinggi untuk melayani sesuatu yang dipercayai sebagai hal yang lebih besar dari diri sendiri.

 

REFERENSI

[1] Takwin, Bagus. 2013. Kekuatan dan Keutamaan Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika. Depok :Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: