Pelayanan dan Pekerjaan Sosial dalam Lingkup Kesehatan


Merupakan resume yang ditulis oleh

Ahmad Rofai

Ayu Asri Fauziah

Nur Afifah

Puti Rani Aisyah

Rizki Maulana

 

2014, Ilmu Kesejahteraan Sosial

Universitas Indonesia

——

Health Problems

Masalah kesehatan terkait dengan berbagai kerusakan dan sakit fisik. Masalah kesehatan selalu berkaitan dengan pencegahan penyakit, memperpanjang usia hidup, dan memajukan kesehatan melalui usaha komunitas yang terorganisasi.

Ada lima faktor yang memengaruhi kesehatan, antara lain:

  1. Gaya hidup yang tidak sehat (rokok, kolesterol, dan obesitas)
  2. Luka fisik, sebagai contoh dikarenakan kecelakaan
  3. Faktor lingkungan (polusi udara)
  4. Kemiskinan
  5. Penyakit menular

Pelayanan medis tersusun dalam empat komponen dasar, yaitu:

  • Physicians in private practice
  • Group outpatient settings
  • Hospital settings
  • Public health services

Social Work Roles in Direct Health Care Practice

Pekerja sosial yang berkecimpung di dunia kesehatan mencakupi semua level: pencegahan, primer, sekunder, tersier, pemulihan, dan berkelanjutan. Ketika pekerja social bekerja di rumah sakit, klinik, atau tempat sejenisnya, mereka bias berbuat banyak seperti, membantu pasien mengerti istilah-istilah medis, member dukungan moral, membantu pasien kritis berdamai dengan kematian (akan dijelaskan di bahasan selanjutnya), menjadi konselor, membantu beradaptasi dengan kehidupan setelah sehat, membantu pasien untuk memahami situasi, menjadi perantara  antara pasien dan  sumber daya di luar, membantu pasien mengurus perencanaan biaya rumah sakit, serta memberitahu pasien  tentang gaya hidup sehat.

Pekerja social juga dapat berkiprah dalam mengurusi para veteran perang melalui The U.S. Department of Veterans Affairs (VA- khusus Amerika Serikat). Peran pekerja sosial di bidang ini seperti, menjembatani kebutuhan veteran akan keuangan dan rumah serta membantu para veteran mengatasi permasalahan mental (konseling). Selain itu, pekerja social dapat memegang posisi manajer di bidang health managed care. Bidang ini terkait dengan asuransi kesehatan dan health maintenance organizations (HMOs).

Problem in Health Care

Dalam bukunya, Zastrow menekankan masalah yang dihadapi oleh pasien dalam pelayanan kesehatan, sedangkan Ashman menekankan pada masalah yang berasal dari pelayanan kesehatan itu sendiri.

Menurut Zastrow, problem in health care yaitu:

Service Orientation Versus Profit Orientation (Layanan Orientasi dibandingkan laba Orientasi)

Tujuan dari pelayanan kesehatan di Amerika tidak hanya untuk memulihkan dan menjaga kesehatan tetapi juga untuk mendapatkan keuntungan. almarhum Robert F. Kennedy menggambarkan kala  system perawatan kesehatan di Amerika Serikat sebagai “kegagalan nasional” karena telah “memberikan kualitas perawatan yang buruk dengan biaya yang tinggi” di negara industri lainnyamenganggap bahwa perawatan medis merupakan pelayanan sosial. Filosofi ini didasarkan pada premis bahwa jenis perawatan yang anda terima tergantung pada jenis penyakit yang anda miliki. Sebaliknya, di Amerika Serikat, jenis perawatan medis yang Anda terima tidak hanya bergantung pada penyakit Anda, tetapi juga pada bagaimana banyak uang yang Anda mampu dan bersedia untuk menghabiskan.

Emphasis on Treatment Rather Than on Prevention (Penekanan pada penyembuhan daripada pencegahan)

Masalah utamanya adalah pengobatan modern berorientasi terhadap obat krisis, yang ditujukan untuk mengobati orang setelah mereka sakit. Sistem pelayanan kesehatan perlu menekankan pencegahan penyakit sebelum penyakit itu datang. Untuk mengendalikan efek melumpuhkan dari penyakit kronis, sistem pelayanan kesehatan perlu menekankan pencegahan penyakit sebelum kerusakan terjadi.

Unequal Access to Health Services (Akses yang tidak merata terhadap Layanan Kesehatan)

Penggunaan dan ketersediaan perawatan medis secara langsung terkait dengan kelas sosial ekonomi dan ras . misalnya saja diamerika orang kulit hitam memiliki akses yang kurang untuk perawatan kesehatan dan cenderung menerima kualitas yang lebih rendah dalam pelayanan kesehatan. Lalu masyarakat miskin pun mengalami kesulitan dalam memperoleh akses perawatan medis . perawatan kesehatan yang berkualitas tinggi hanya dirasakan oleh orang kaya tetapi tidak pada orang miskin .

Low-Quality Health Care for Older Adults (Perawatan kesehatan kualitas rendah untuk orang tua)

Terdapat krisis perawatan kesehatan kepada orang tua .Ketika orang tua sakit mereka tidak mendapat perawatan medis yang berkualitas karena dokter tidak tertarik dalam mengobati orang tua karena mereka menggangap orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk hidup. Orang dewasa yang lebih tua lebih mungkin untuk memiliki penyakit dengan waktu yang relatif jangka panjang. Banyak orang dewasa yang lebih tua yang sakit parah dan tidak mendapatkan perhatian medis. Dengan pasien yang lebih muda, layanan fee for sevice jauh lebih menguntungkan.

Unnecessary health Care (Pengobatan tidak baik) 

            Di tahun-tahun sekarang ini, salah satu tujuan dari organisasi kesehatan adalah mencari keuntungan, dan kebanyakan dari mereka sering kali menggunakan atau melakukan kesalahan dalam pemberian obat dan penanganan terhadap pasien juga melakukan operasi yang tidak dibutuhkan. Telah ditemukan banyak orang yang malah kena candu untuk menggunakan obat-obatan yang sebenarnya tidak teralalu dibutuhkan namun tetap debri oleh beberapa oknum pelayanan medis. Hal ini terjadi tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari tujuan untuk mendapat pendapatan yang banyak dengan tidak disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki.

Kontraversi penggunaan peralatan pendukung hidup

            Intinya adalah penggunaan peralatan kepaada orang-orang yang sebenarnya sudah sekarat dengan ketidakberfungsian sistem tubuhnya (seperti jantung, otak dll). Penggunakan ini diniatkan untuk memperpanjang umur (yang mungkin hanya beberapa jam) bagi orang  yang sedang sekarat tersebut.  Yang menjadi bahan kontorvesinya adalah justru semakin kita berusaha untuk memperpanjang umur si penderita, semakin membuat sakit orang tersebut. Padahal akan jauh lebih simpel kalau saja kita membiarkan pasien untuk meninggal tanpa harus merasakan sakit lagi dengan memebrikan peralatan itu.

Tingginya Biaya Medical Care

Yang menjadi penyebab atas mahalnya biaya perawatan bagi mereka yang sedang sakit adalah

  1. Tujuan ekonomi yang (mencari keuntungan) bagi para dokter
  2. Biasanya, bagi para pasien yang sedang terkena penyakit, mereka akan jauh lebih rela untuk mengeluarkan uang berapapun untuk mendapatan kembali kesehatannya.
  3. Berkembangnya teknologi-tekologi terkini untuk menangani pasien .
  4. Dokter-dokter spesialis yang sudah mendapatkan lisensi
  5. Persaingan antar rumah sakit.

AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh HIV ( Human Immunodeficiency Virus) yang hingga kin belum ditemukan obat penyembuh. Penyakit ini menyerang sistem imun (pertahanan) tubuh. HIV menyerang sel darah putih yang seharusnya berfungsi untuk mempertahankan serta  membunuh bakteri dan pantogen lain dalam tubuh. Tanpa adanya sistem imun (sel darah putih) menyebabkan banyak bakteri, jamur,  sehingga menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, pneumonia, dan meningitis.

HIV/AID dapat tertular dari satu indivitu ke individu lain melalui hubungan sex, meenggunakan injeksi (jarum suntik) bekas orang yang terkena HIV, dan menerima tranfusi darah dari orang yang terkena HIV. Seorang ibu dapat menurunkan virus HIV kepada bayinya bahkan ketika belum lahir sekalipun. Para ahli mengatkan bahwa melakukan hal seperti ciuman, bersin, batuk, menangis serta bersalaman tidaj terbukti dapat menularkan HIV ini. Juga AIDS tidak menular melalui kontak kebetulan seperti, toilet, telepon dan lainya. Nyamuk sendiri tidak bisa menjadi perantara penularan HIV.

Seorang yang terkena HIV tidak secara langsung dapat teridentifikasi kecuali ketika sudah menunjukan gejala AIDS yang dalam estimasi 7 sampai 10 tahun. Meskipun ada yang sudah mengalami gejala beberapa bulan setelah terinfeksi atau bahkan hinga 20 tahun baru merasakan gejala AIDSnya. Periode seseorang dari terkena HIV hinga dia menujukan gejala AIDS disebut sebagai masa inkubasi.  AZT (Azidothymidine) telah ditemukan sebagai obat untuk menunda pertumbuhan virus. Obat ini memebantu orang yang terindikasi untuk hidup lebih lama (bukan berarti mengobati). Obat ini harus dimimun empat jam sekali, dan memiliki efek samping yang sangat mengganggu bagi pendderita HIV seperti sakit kepala, anemia, berkuranngnya sel darah putih, dan kerusakan pada tulang. Ditahun 1991 dtemukan obat sebagai perkembangan dari AZT, yakni non-nucleoside reserve trsanscriptase inhibitor (NNRTIs) yang kahadiranya sangat mahal.

Lylod menyampaikan bahwa terdapat dua cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah tertularnya HIV dalam tubuh. (1) tidak melakukan seks (apalagi dengan orang yang sudah melakukan seks dengan banyak orang), (2) melakukan seks pada orang yang tidak terkena HIV, juga menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom. Pada beberapa orang, AIDS menyerang sistem imun otak yang menimbulkan orang tidak bisa berkonsentrasi, cepat lupa, kegagalan dalam berpikir cepat dan efisien dan lemahnya mendapat rangsangan. Untuk saat ini, penyakit AIDS belum ditemukan obatnya, namun kita bisa mencegahnya penularan tersebut dengan melakukan hal-hal yang sudah dijelaskan diatas.

Sedangkan AIDS menurut Ashman sebagai berikut

HIV dan AIDS

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS), yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV), adalah sebuah penyakit yang menghancurkan sistem imun tubuh. Orang-orang yang terjangkit menjadi semakin lemah terhadap penyakit-penyakit lain sehingga mudah diserang karena melemahnya sistem kekebalan terhadap penyakit.

HIV adalah sebuah tipe virus yang disebut retrovirus. Retrovirus adalah sebuah virus spesial yang menyerang sel normal dan menyebabkan mereka untuk memproduksi kembali lebih banyak virus tersebut daripada memproduksi sel normal itu sendiri. HIV menyerang darah putih (disebut T cells) dimana fungsi darah putih untuk melawan penyakit yang menyerang tubuh. Spesifik jenis T cells memiliki rentan jumlah molekul CD4 pada permukaannya yang membantu koordinasi pertahanan tubuh terhadap mikroorganisasi tertentu seperti virus..

Measurement of the CD4 T-Cell Count

Beberapa tes telah dikembangkan untuk menentukan jika seseorang telah terkena virus AIDS. Tes-tes ini mendeteksi bukan virusnya, tetapi antibodi sistem imun orang tersebut yang berkembang untuk melawan virus. Dua dari tes yang sering digunakan adalah ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) dan the Western blot. ELISA dapat digunakan dalam dua cara yang penting. Pertama, donor darah dapat di saring untuk mencegah virus AIDS. Kedua, individu yang takut bahwa mereka kemungkinan membawa virus tersebut dapat di tes. Untuk orang yang telah terinfeksi HIV, umumnya memakan waktu 2 sampai 3 bulan sebelum antibodi yang diproduksi terdeteksi oleh tes ELISA.

Treatment for AIDS

Menurut Rathus untuk pengobatan HIV/AIDS terdapat sebuah kombinasi dari obat-obat antivirus telah menjadi pengobatan standar terhadap HIV/AIDS. Kombinasi ini biasa disebut HAART (highly active antiretroviral therapy) yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah HIV namun tidak menghancurkan virus tersebut, biasanya obat ini dihargai dengan harga yang sangat mahal.

Pendekatan pengobatan lain dapat dilakukan dengan hidup sehat seperti nutrisi yang baik, olahraga rutin, penanganan stres, dan praktek yang konsisten lainnya dengan kesehatan yang baik dapat berkontribusi untuk tetap sehat lebih lama. Penelitian klinis yang dilakukan pada vaksin untuk HIV, ada dua jalan penelitian yang sedang dilaksanakan. Pertama, Vaksin preventif yang sedang diselidiki untuk mencegah infeksi HIV pada orang HIV-negatif. Kedua, vaksin terapeutik yang sedang dieksplorasi untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada orang yqng terjangkit HIV-positif.

Empowerment for People Living with AIDS

Pemberdayaan adalah sebuah kunci konsep untuk pekerja sosial membantu seseorang yang terkena AIDS. Pemberdayaan berhubungan dengan harapan. Pekerja sosial dapat memberikan dukungan kepada orang dengan penyakit AIDS dan memberikan harapan bahwa hidup mereka masih lama dan banyak hal positif yang dapat dilakukan. Para pekerja sosial juga dapat memberikan pertimbangan alternative dan pilihan yang terbaik untuk orang yang terkena HIV positif dan memperlakukan mereka seperti layaknya orang yang hidup normal.

Seseorang yang terkena AIDS tidak seharusnya disebut sebagai ‘korban’. Lebih baik, mereka disebut sebagai orang yang hidup dengan AIDS, dengan perhatian pada hidupnya. Orang-orang yang hidup dengan AIDS perlu dilihat sebagai individu yang mampu dalam pemberdayaan, bukan sebagai korban yang tidak berdaya. Orang yang mempunyai penyakit AIDS mempunyai pengalaman positif dan negative yang dapat dijadikan pelajaran hidup kita dari sana kita bisa menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana dalam menilai orang.

Social Work Roles and Empowerment for People Living with AIDS

Pekerja sosial menanggung banyak peran ketika bekerja dengan orang-orang yang hidup dengan AIDS. Pertama, pekerja sosial dapat menyediakan konseling. Dalam hal ini pekerja sosial membantu orang HIV menangani masalah perasaan ketakutan, rasa bersalah, kemarahan, depresi, putus asa, penelantaran dan emosi lain yang mungkin mereka rasakan.

Sebagai educator, pekerja sosial dapat menyediakan informasi tentang kemajuan dari penyakit, perawatan dengan obat, stress manajemen, pilihan cara hidup positif, dan praktek sex yang aman. Orang-orang yang terkena AIDS sering merasa terisolasi dari keluarga, teman dan orang terdekat lainnya. Pekerja sosial dapat membantu orang-orang yang hidup dengan AIDS menyambung kembali hubungan dengan orang lain dilingkungannya. Orang-orang yang penting dalam kehidupan klien juga harus mengekspresikan bahwa mereka dapat membantunya atau memberikan semangat. Namun ada juga orang yang menghindari dengan cara menghindar dan menarik diri dari orang yang terkena AIDS.

Pekerja sosial juga dapat menyediakan konseling keluarga, dimana mereka membantu orang dengan penyakit AIDS mendiskusikan masalahnya dengan anggota keluarga yang lain. Pekerja sosial, sebagai broker, dapat membantu klien menghubungkan dengan pelayanan yang dibutuhkan. Pekerja sosial dapat mengarahkan klien bergabung dengan support groups, dimana mereka dapat berbagi dengan orang yang juga memiliki AIDS sehingga orang yang berada dalam support groups tidak merasa sendiri dalam mengahadapi masalah ini, Mereka dapat melihat bahwa ada orang lain yang memahami masalah dan perasaan mereka.

Selain itu, pekerja sosial dapat memberikan kasus manajemen layanan kepada orang yang hidup dengan penyakit AIDS bagian dari manajemen kasus melibatkan Advokasi dimana advokasi adalah tindakan untuk berbicara tentang keadilan dan perlakuan yang setara yang didapatkan oleh orang yang hidup dengan AIDS. Karena orang dengan penyakit AIDS sering mendapatkan diskriminasi, ditolak dalam pelayanan, dipecat dari pekerjaan atau diusir dari rumah. Advokasi juga dapat mencari keperluan lain dari orang AIDS seperti perawatan kesehatan atau bantuan keuangan.

 

Sedangkan menurut Ashman, dari ruang lingkup makro terdapat empat isu masalah, yaitu:

  • The Escalating Cost of Health Care

Meningkatnya biaya kesehatan. Biaya kesehatan yang semakin meningkat disebabkan oleh beberapa hal. Mooney dan rekan (2009) berpendapat bahwa biaya pelayanan kesehatan yang melonjak setidaknya karena lima alasan, yaitu:

  1. Percepatan kemajuan teknologi yang telah meningkatkan jenis pelayanan, obat, serta pemeriksaan kesehatan.
  2. Populasi yang terus mengalami penuaan, sehingga dibutuhkan pengobatan medis yang semakin baik dan memerlukan biaya yang lebih mahal.
  3. Biaya administrasi untuk perawatan kesehatan juga mengalami kenaikan, sehingga terdapat kesulitan dalam mengakses kesehatan.,
  4. Biaya resep obat yang terus meroket.
  5. Biaya asuransi kesehatan publik maupun swasta juga melejit.
  • Unequal Access to Health Care

Ketidakseimbangan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Orang miskin dan orang dengan kulit berwarna lebih berisiko menerima pelayanan yang tidak memadai bahkan tidak mendapat perawatan kesehatan.

  • Problems in Managed Care

Masalah dalam mengatur pelayanan kesehatan. Hal ini berkaitan dengan tata cara pelayanan kesehatan berupa asuransi yang disediakan oleh majikan kepada para pekerjanya. Program managed care sering menyediakan layanan di luar yang biasanya dibayar oleh asuransi kesehatan.

  • Ethical Dilemmas in Managed Care

Dilema etika dalam pelayanan kesehatan adalah masalah etika seorang penyedia layanan kesehatan dengan kliennya. Masalah dalam pelayanan kesehatan bukan hanya masalah fee for service, namun hal ini dapat bekerja dengan baik apabila masing-masing dari pelayan kesehatan berkontribusi dengan baik. Sehingga dapat memotong biaya kesehatan, dan pelayanan bekerja secara efisien. Dilema etika juga dapat berupa menjaga kerahasiaan klien, kecuali dibutuhkan untuk kepentingan pasien.

Bila di lihat dengan seksama, terdapat kesamaan antara Zastrow dan Ashman, pelayanan kesehatan yang belum merata dan pelayanan yang kurang baik terhadap para orang tua karena orientasi keuntungan lebih dominan dibandingkan dengan kesehatan pasien.

 Pembiayaan Penanganan Medis

            Pengeluaran medis yang dikeluarkan oleh pasien dengan tiga cara berikut (1) Asuransi Swasta/Pribadi (2) melalui program pemerintah (3) pembayaran lanngsung dari pasien ke penyedia layanan.

  • MEDICAID (Program Pemerintah)

            Merupakan program pemerintah untuk pelayanan medis secara publik, pemerintah  berusaha untuk membantu rakyat yang terkena suatu penyakit dengan membayar jasa rumah sakit. Program ini membantu bagi mereka yang tidak bisa membayar untuk pengobatan atas penyakit yang dideritanya.

  • MEDICARE ( Asuransi Swasta/Pribadi)

Terbagi menjadi 2 yaitu, (1) Asuransi Perawatan (part A) dan (2) Asuransi Pengobatan (part B).

Part A : setiap orang yang telah berumur lebih dari 65 tahun, atau cacat telah secara otomatis masuk kedalam golongan ini. Pada Asuransi  Perawatan, dalam waktu tertentu membantu merawat dengan menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang seperti rumah jompo

Part B : memberi suplay pengobatan, lebih ke program memberikan pengobatan bagi meraka yang memiliki penyakit.

Dimensi nilai dalam budaya di Asia Pasifik yang berkaitan dengan dasar pelayanan kesehatan

  • Fillial Piety (Kepatuhan anak)

Pengabdian maupun kepatuhan terhadap otoritas orangtua dan keluarga dimana seseorang harus mengorbankan keinginan individu dan ambisi. Sudah merupakan suatu kewajiban dimana orang-orang muda merawat orang tua dengan bertambahnya usia mereka.

  • Collective Versus Individual Decision Making (Pembuatan keputusan secara kelompok dan individu)

Berbeda dengan orientasi individualis dalam perawatan kesehatan AS, nilai API berpusat pada ketergantungan pada keluarga atau kelompok yang lebih besar untuk membuat keputusan akhir tentang perawatan setiap anggota individu.

  • Emphasis on Harmony Versus Conflict (Menekankan pada keteraturan daripada konflik)

Orang- orang Asia Pasifik akan sangat menekankan pada harmoni atau keteraturan dan menghindari masalah.

  • Nonverbal Communications (Komunikasi Nonverbal)

Arti dari wajah ekspresi, gerak tubuh, kontak mata, dan berbagai budaya simbol atau metafora biasanya sepenuhnya berbeda dari orang-orang Barat. Penelitian telah menemukan Asia memiliki “low-kontak” budaya-yaitu, lebih nyaman dengan kontak fisik dan jarak diantara masing-masing individu.

  • Fatalism (Kepercayaan terhadap nasib)

Fatalism adalah konsepsi bahwa suatu peristiwa sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga manusia tidak berdaya untuk mengubahnya. Mereka percaya bahwa setiap kejadian atau peristiwa telah ditetapkan sebelumnya, sehingga perspektif fatalistik menyiratkan bahwa perawatan medis tidak berguna karena nasib mengontrol peristiwa tersebut. Hal ini menyebabkan pelayanan kesehatan belum maksimal.

  • Shame at Asking Help (Malu dalam meminta bantuan)

Terdapat sebuah stigma mengenai penderita tekanan mental dan emosional, sehingga keluarga seringkali hanya menyelesaikannya dalam keluarga dan tidak mengeksposnya keluar. Mereka hanya membawa masalah tersebut keluar apabila masalah tersebut dalam katagori darurat.

Konflik dalam nilai budaya Asia Pasifik dan sistem pelayanan kesehatan di US

  • Informed Consent

Pertama, pertimbangkan API di harmoni, yaitu kesesuaian antara pasien dengan pelayanan kesehatan. Kedua, budaya norma menekankan keheningan, yang dimaksudkan agar dapat mencegah pasien dari menyuarakan pendapat yang bertentangan, mengajukan pertanyaan tentang penyakit, dan menurun untuk menandatangani surat-surat. Ketiga, tenaga kesehatan sering menyadari bagaimana nilai-nilai budaya API dapat mempengaruhi persetujuan proses dan mengganggu integritas.

  • Advance Directives

Advance directives adalah perintah yang tertulis, disaksikan dan ditandatangani yang berkaitan dengan harapan individu ketika mereka tidak dapat membuat keputusan. Perintah ini berisi tentang apa yang harus dilakukan ketika si pasien berada dalam pengaruh medis dan harus menggunakan orang lain untuk membuat keputusan.

  • Decisions About Nursing Home Placement

Merupakan konsep bakti anak-anak kepada orang tua mereka bahwa mereka harus merawat orang tua mereka. Berbeda dengan budaya Barat, banyak budaya tradisional API mengharapkan kematian terjadi di rumah dan memiliki tradisi berkabung. Dengan hal ini API menghambat anggota keluarga yang sekarat untuk mendapat perawatan atau rumah sakit.

  • Disclosure of Terminal Illness

Di Asia Pasifik, biasanya seorang dokter akan memberitahu anggota keluarga mengenai tentang penyakit yang dideritanya . Namun, memberitahukan tentang kematian pasien masih dianggap tabu oleh kebanyakan orang Asia Pasifik. Hal ini dikarenakan keluarga tidak ingin pasien menjadi berkecil hati dan kehilangan semangat untuk hidup. Mereka juga beranggapan bahwa membicarakan kematian juga akan membawa nasib buruk.

  • End of Life Decisions

Orang Asia Pasifik biasanya sangat menekankan pada umur panjang daripada kualitas hidup. Beberapa keluarga tidak ingin membuat keputusan yang mungkin akan menolak kemungkinan terjadinya mukjizat dari Tuhan, ataupun dari sistem medis Amerika. Hal ini membuat mereka memiliki harapan yang tinggi dan tidak realistis.

 

REFERENSI

[1] Zastrow, Charles. 2010. Introduction to Social Work and Social Welfare. 10th edition. Pacific Grove: Brooks/Cole Publishing Company.

[2] Kirst-Ashman, Karen K. 2010. Introduction to Social Work and Social Welfare, Critical Thinking Perspective. Third Edition. Belmont: Brooks/Cole.

 

Sumber gambar: health.liputan6.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: