Social Capital


 

[PENDAHULUAN]

Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai sosial capital dalam kaitanya dengan praktek pekerjaan sosial. Serta pembahasan mengenai agen, komunitas dan kela yang ada dalam masyarakat. Adapun sekilas tentang sosial capital adalah hubungan dan koneksi yang terjadi antara indvidu atau kelompok dalam kehidupan sehari. Kemudian adapula individu membentuk sebuah koloni dan berkelompok disebut sebagai komunitas. Adapun penjelasan lebih lenjut mengenai konsep diatas, akan diurai secara lengkap pada pembahasan makalah.

 

[PEMBAHASAN]

INTRODUCTION : CONCEPTS, HISTORY, MEASUREMENT

Hal menarik tentang sosial kapital datang dari dua arah, pertama, bagi para pembuat kebijakan, sosial capital merupakan sabuah ‘nama’ bahwa terjadi sesuatu yang hilang dalam sample kasus ekonomi. Kedua, dari para akedemisi, yang melihat adanya jaringan dan hubungan antar individu untuk mencapai tujuan tertentu.

So what is “social capital”

Hubungan yang terjadi dan sistem tukar informasi serta komunikasi dan kontak sosial yang terjadi dalam keseharian manusia, dapat dijadikan sebagai contoh sederhana pada sosial kapita itu sendiri. Setiap orang saling terhubung satu sama lain melalui mediasi struktur sosial, mereka saling berbagi bagaimana seharusnya bertindak satu sama lain. Hal-hal sosial ini berdampak pada dengan siapa dan bagaimana kita bertindak. Hal inilah yang kemudian didefinisikan sebagai sosial capital.

Hitory of Concept

Tocqueville mengungkapkan bahwa melalui asosiasi hidup, ‘rasa dan gagasan akan dapat diperbarui, luasnya perasaan, dan pemahaman terjadi hanya jika ada timbal-balik antara satu indivdu dengan individu lain’. Durkheim juga mengungkapkan bahwa, meskipun banyak aktivitas individu yang dilakukan, setiap dari mereka bertindak tidak terlepas/sesuai dengan nilai-nilai, norma komunitas tempat individu itu berada.

Pierre Bourdieu, mengungkapkan pengertian sosial capital “ adalah segala sumber, yang benar, yang tumbuh atas individu atau kelompok dengan kebaikan saling memengaruhi pada jaringan dalam durasi dan tempat tertentu saling berhubungan”. Lalu James Coleman juga mengungkapkan dan mendeskripsikan sosial capital “terdifinisi berdasarkan apa fungsinya—mencakup aspek struktur sosial, yang memfasilitasi tindakan setiap actor didalamnya”.

Dalam studinya, Putnam juga menyimpulkan, berdasarkan detil dan kompilasi atas berbagai bukti,  bahwa pemerintahan efektif dapat dilihat dari level asociasi hidup dengan tingginya kepercayaan pada orang didalam wilayah itu. Putnam mengungkapkan akar tingginya sosial capital pada politik dan budaya yang dianut negara adalah tingkat saling “kepercayaan” antar individu dalam negara. Lalu, dalam menidaklanjuti teori ini, Fukumaya mengambil contoh:

  1. Kehidupan rakyat jepan dan amerika : tinkat kepercayaan tinggi antara pemerintah dengan masyarakat dalam negara à memiliki ekonomi dan sistem politik yang efektif.
  2. Kehidupan rakyat rusia dan afrika : tingkat kepercayaan rendah antara pemerintah dengan masyarakat dalam negara à memiliki kondisi ekonomi dan sistem politif yang tidak efetif.

The Three Basic Componen of Social Capital

Sesuatu fenomena dapat dikatakan sebagai social capital, apabila memenuhi tiga elemen berikut didalamnya :

  1. Network à Hubungan, jaringan, sistem komunikasi yang ada diantara invidu/kelompok
  2. Norms à Aturan, nilai dan harapan dalam komunitas tempat individu saling berkomunikasi dan tinggal.
  3. SanctionàBerupa hukuman dan imbalan atas berbagai perilaku yang dilakukan antar individu/kelompok.

Hal tersebut dapat dianalisis dalam sebuah komunitas atau kelompok tertentu, adapun penggambaran mengenai komponen diatas dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Keterangan Network Norms Sanction
Pengertian Hubungan yang ada Aturan dan nilai Hukuman dan imbalan
       
Contoh Tetangg(pinjam-meminjam, saling melindungi dan sapa, terkadang juga ekspresi ketidaksukaan) Timbal-balik, saling menjaga properti yang ada, memerangi orang asing bersama Saling memuji (imbalan)// mengumbar gosip (hukuman)

Levels Of Analysis: From Nation to Family

Terdapat perdebatan tanpa akhir dalam menentukan jangkauan analisis sosial capital ini. Pendeknya, social capital dapat dianalisis bukan hanya bisa dalam komunitas atau asosiasi kerelawanan tertentu, melainkan sklala lebih luas pada fenomena budayam bisa juga hal yang jauh lebih kecil (mikro) pada fenomena intrafamili.

The Argument for social capital as a macro-level concept

Indikatoor paling penting mengapa sosial capital dapat menganilisis fenomena makro adalah dengan adanya kebiasaan budaya saling berbagi yang dapat membawa orang-orang dalam negara teetap bersama dalam waktu yang lama, atau setiap individu dapat mencapai angka minimum konflik dengan yang lain.

Argumen paling kuat pada sosial capital di macro-level adalah pendefinisian orang-orang pada wilayah tertentu (negara) terhadap sosial kaipital sebagai sistem “rasa percaya” terhadap orang lain. Dan hubungan bersama antar mereka yang saling mempengaruhi satu sama lain.hal ini telah di adcokasikan oleh Kimberly Lochner  dan  Iciro Kawachi.

The Argument for social capital as a micro-level

Sebagai perkembangan dan pertumbuhan teori yang tak berakhir, telah banyak para peneliti mapan yang mempunyai kesimpulan dengan meragukan adanya ekspresi sosial capital dalam bentuk makro-level. Begitupun portes berasumsi bahwa sosial capital hanya ada dalam tataran individu.

Edward dan Foley memiliki kesimpulan yang sama dengan mengatakan bahwa, dalam tujua penelitian empririk, sosial kapita harus dipisahkan dengan niali psiko-sosial pada jaringan sosial dan sistem organisasi.

The Argument for social capital as a multi-level

Dalam hal ini, intinya, penneliti berusaha mengkombinasikan analisis level-mikro pada sosial capital dan analisis makro-leve pada sosial capital. Karena kedua jenis analisis diatas memiiki bukti kuat masing-masing dalam penjelasanya. Setiap peneliti mengambil kesimpulan atas apa yang diteliti tergantung pada bagaimana cara peneliti memandang. Kita harus menggunakan analis sosial capital (baik mikro-maupun makro) harus sesuai konteks yang ada.

Functional sub-types of social capital: bonding and bridging

Karya teoritis baru-baru ini berusaha untuk memecahkan gagasan modal sosial ke pada perbedaan sub-tipe-nya. Mungkin yang paling penting dalam perbedaan ini adalah antara modal sosial bonding (ikatan) dan bridging (hubungan). Dalam istilah jaringan, perbedaan awal didengungkan oleh Mark Granovetter peran yang dimainkan oleh ikatan yang lemah atau ikatan yang kuat. Hegel membedakan keduanya dari karya filsafat dalam istilah norma. Hegel membedakan antara ikatan yang kuat dari timbal balik dan kepedulian yang ditemukan di dalam keluarga dan masyarakat kecil (modal sosial dengan ikatan sosial yang normatif) yang cenderung mendominasi antara kerabat asing. Mengingat kecenderungan kurangnya kerjasama antara orang asing, Hegel menyoroti akan pentingnya masyarakat mendirikan nrma “altruisme impersonal” terutama melalui tindakan negara, dimana kerabat asing bisa bekerjasama dengan baik.

Woolcock membedakan antara kedua istilah itu, yang ia namakan integrasi sebagai bonding, dan hubungan sebagai bridging. Sedangkan Fedderke, De Kadt dan Luiz berpendapat perbedaan lintas sektoral antara dua fungsi modal sosial yaitu: transparasi dan rasionalisasi.

Jika dilihat lebih luas, perbedaan antara bonding-bridging menjadi penting dalam beberapa kasus, mungkin saja kita tidak terlalu khawatir akan pengukuran dari modal sosial seperti bonding dan bridging. Selain itu dalam penelitian baru-baru ini memperlihatkan bahwa bridging dan bonding mempunyai perbedaan kualitas empirik, memperkuat pentingnya perbedaan. Kesimpulannya, perbedaan bonding dan bridging menjadi banyak digunakan, namun banyak perbedaan yang lain belum mencapai nilai yang lebih luas.

Power and the concept of ‘linking’ socal capital: is social capital a public good?

Modal sosial mungkin sering hanya menjadi sebuah barang semi-publik atau klub. Memang, di beberapa kasus, mungkin ada dalam bentuk kelompok yang lebih luas mengganggap itu buruk atau patologis, seperti Mafia. Dalam bukunya Putnam yang berjudul “Dark side of social capital” dikatakan bahwa modal sosial itu digunakan untuk mencapai tujuan yang beberapa mungkin menganggap bahwa itu buruk. Suatu kajian terhadap sumber daya dalam jaringan sosial seseorang memberikan suatu tindakan yang kasar untuk orang-orang yang akan melihat dalam hal sepenuhnya barang publik.

Kombinasi tertentu dari bonding dan bridging pada tingkat mikro mencirikan masyarakat tertentu, Woolcock menyatakan bahwa kombinasi tertentu dari sinergi dan integritas organisasional pada level makro mencirikan bentuk berbeda dari hubungan negara-rakyat. Masalah bagaimana masyarakat menyepakati dengan hubungan kekuatasn asimetris tidak terbatas pada hubungan negara-rakyat. Itu muncul setiap kali kita mempertimbangkan hubungan antara dua individu, komunitas, atau institusi dimana pihak-pihak memiliki sumber daya yang sangat merata. Maka menghubungkan modal sosial mungkin untuk sementara waktu terlihat sebagai sebuah bentuk spesial dari moda sosial “hubungan” yang secara khusus menekankan pada power. – hal itu adalah sebuah hubungan vertikal melintasi kekuasaan dan sumberdaya asimetris. Di masyarakat seperti itu, kita akan melihat kekuasaan dan sumberdaya banyak dikelompokkan menjadi barang klub, geng, dan daerah kantong yang dilindungi yang terpisah (dan dilindungi).

Pulling the conceptual strands together

Ada tiga dimensi lintas sektor yang paling utama disini yaitu:

  1. Komponen- jaringan, norma, sanksi
  2. Level atau analisis ruang lingkung- individu, kelompok, komunitas dan negara
  3. Karakter fungsi- bonding, bridging, linking

Is ‘social capital’ the right term?

Ketiga komponen modal sosial secara jelas mempunyai hubungn timbal balik yang sistematis dengan satu sama lain. Dan dalam modal sosial mikro, meso, makro mempunyai macam-macam hal empiris, hubungan sebab-akibat satu dengan lainnya. Maka ada alasan dalam melihat perbedaan komponen, level dan karakteristik dibawah judul yang yang sama secara bersama- apa yang kita telah sebut degan modal sosial- karena kita percaya bahwa mereka mempunyai sebuah hubungan sebab-akibat yang mendalam satu dengan lainnya. Selain itu, kita meletakkan komponen secara bersama dalam satu keluarga besar atau genus karena kita percaya bahwa mereka mempunyai beberapa tingkat kesamaan fungsional.

Is it really ‘capital’?

Perhatian ini ditujukan untuk fokus pada ‘fungibility’, bahwa modal dapat bertransformasi dari satu bentuk ke bentuk lain, akuntansi umum dapat disepakati untuk membandingkan nilai atau kesetaraan dari berbagai bentuk, dan modal dapat diperdagangkan atau dijual. Maka individu, perusahaan atau komunitas mempunyai pilihan yang nyata antara menginvestasikan dalam bentuk sosial versus bentuk lain dari kapital.

The practical problem of measuring social capital

Satu alasan mengapa para ekonom dan lainya tidak suka dengan modal sosial adalah karena modal sosial sangat susah diukur. Kita bisa mengukur modal sosial dengan cara mengukur seberapa besar jaringan sosial dan norma yang semua bisa digambarkan secara legitimasi sebagai modal sosial. Dalam pengukuran biasanya kita menggunakan suatu ukuran sendiri, yaitu seperti realibilitas, validitas permukaan, validitas-kriteria terkait, dan validitas prediksi.

A sough-and-ready measure: “social trust”

Ada tiga kelemahan serius dari ini sebagai sebuah pengukuran yang bisa diidentifikasi. Pertama, muncul untuk suatu arti sempit, level meso, definisi dasar jaringan dari modal sosial. Kedua, tlah terbukti ukuran itu ternyata sulit dan kontrovesial dalam praktek, dalam komposisi dan sifat kelompok dapat ambigu dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Ketiga, studi kasus terkadang gagal dalam replikasi pola asosiasi kepadatan organissi dab hasil variabel yang diprediksi. Selanjutnya, ini masuk akal untuk mengungkapkan bahwa kepercayaan yang meluas dan kepercayaan itu sendiri adalah bagian penting dari dimensi normatif modal sosial. Pengukuran dari kepercayaan sosial digunakan sebagai indikator  ‘rough dan ready’ pada level nasional oleh beberapa peneliti dan kesuksesan ini memprediksi pentingnya bukti hasil yang bisa dibilang bentuk terpenting validitas prediktif. Kesimpulannya, item dalam daftar pertanyaan menekan kepercayaan sosial, rata-rate di masyarakat, regional, atau level nasional, muncul menjadi indikator simpel, reliabel, dan valid dalam modal sosial pada level agregat.

More elaborate measures of social capital: towards a ‘Vitamin model’

Kesehatan dan masyarakat efektif membutuhkan perpaduan dari tipe aneka modal sosial, hanya seperti seseorang yang membutuhkan perpaduan aneka vitamin dalam diet mereka untuk kesehatan fisik. Dalam prinsipnya, kita membutuhkan pengukuran setiap dari bentuk-bentuk modal sosial ini, atau vitamin.

Masalah pengukuran terbuat secara signifikan lebih sulit ketika kita mempertimbangkan isu aneka budaya dalam ekspresi modal sosial. Indikasi modal sosial mungkin diwujudkan, setidaknya sebagian dalam berbagai cara dalam perbedaan budaya membuat pengukuran lintas nasional sebuah proses yang kompleks. Kesimpulannya, kita perlu untuk bergerak terhdap model multi-facet dalam modal sosial dan kemajuan telah dibuat dalam suatu arah. Bagaimanapun, proses pembangunan bentuk valid lintas budaya pada pengukuran tidak mudah dan kemungkinan menjadi sumber perdebatan terus dan fokus selama bertahun-tahun yang akan datang.

Where to from here?

Beberapa negara, lembaga dan departemen pemerintah juga melihat konsep modal sosial ini, termasuk pada bagaimana mungkin itu berdampak pada daerahnya dan seberapa mungkin bisa diukur. Seperti yang dilakukan Buss. Lembaga internasional juga menjadi tertarik pada modal sosial, seperti World Bank. Satu aspek terakhir dalam penelitian baru-baru ini pada modal sosial bahwa yang perlu dicatat adalah berbagai disiplin ilmu yang dilibatkan

 

AGENCY, COMMUNITY, AND CLAS

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang mengapa dan bagaimana perspektif itu membuat intervensi masing-masing. Di awal bab akan membahas tentangagen, komunitas, dankelas.

Agency

Deacon (2002; ef.Deacon & Mann, 1999) berpendapat bahwa subjek dari kebijakan social tidak cukup diperhatiakan nuntuk pertanyaan dari agen karena agen memegang kolektivitas dan komitmen untuk persamaan sosial.

Ini boleh atau tidak boleh memberi masukan sebuah laporan yang dapat  dipercaya dari interaksi  antara struktur social dan tingkah laku individu, dan hal itu tidak boleh untuk membuat rekomendasi yang jelas untuk sebuah agen, tetapi agen adalah bagaikan pemberian seperti rumah untuk tempat tinggal yang mana dibangun dengan ‘tembok dan semen’ sebagai jalan untuk melindungi diri  dari masalah besar yang menimpa hidupnya.

Le Grand (2003) berasumsi bahwa kedua sector public internasional dan penerima dari pelayanan public menurut untuk mengikuti tipe yang ideal. Le Grand memiliki pendapat bahwa kebijakan social harus diorganisasikan agar penerima mendapatkan  apa yang mereka butuhkan.

Reciprocity

Timbal balik terlihat untuk membalas kepentingan orang lain pada kosakata di kebijakan sosial. Dari perbedaan makna  timbale balik dapat diambil intinya untuk menghubungkan tekanan konservatif ketika melaksanakan tugas, tekanan social demokratis ketika kompak, dan tekanan radikal ketika langsung.

Timbal balik adakarena memerlukan kebijakan dan lembaga untuk mendisiplinkan mereka yang atau mungkin menjadi gagaldisiplin.Satu masalah dengan menegakkan kewajiban adalah bahwa hal itu mungkin tidak adil dan diarahkan terhadap paling tidak diuntungkan (cf. Fitzpatrick, 2001a: 67-70). Ini adalah kasus di mana obat untuk pengangguran dianggap sanksi workface.

Hal ini sederhana untuk mengobati timbal balik seolah-olah itu adalah salah satu hal. Alih-alih menjadi sebuah timbal balik unsur adalah bukan suatu senyawa yang terbentuk dari konsep lain dan menyerap dengan kontestasi politik atau, untuk membuatnya lebih sederhana, kita mungkin kontras sebuah timbal balik altruistik dengan timbal balik yang egois.

 Reflexitivity

Reflextivity dapat berarti reflektivitas atau refleksi dan maknanya tidak dapat dicampur adukkan walaupun keduanya dapat menggabungkan diri. Mantan paling sering dikaitkan dengan Giddens (1991, 1994; Beck et al, 1994) dan tesisnya bahwa gambar diri adalah yang subjek sendiri untuk pemeriksaan konstan, pembiasan sendiri menjadi beberapa versi dan tanpa henti menghubungkan kembali fragmen ini melalui berbagai strategi narasi : ini adalah “self image” atau “self images”.

Beck & Beck- Gernsheim (2002; Beck, 1992), sementara itu, lebih fokus pada refleks dan destabilisasi modern modernitas. Refleksi menjadi kurang dari kemungkinan karena kita punya waktu kurang di mana untuk mencerminkan dan tidak ada cakrawala penting yang kita bisa perjalanan untuk gambar seluruh bidang sosial.

Giddens (2002: 38-43) merasa bahwa ia dapat merekomendasikan demokratisasi radikal hubungan sosial sementara merekomendasikan kesetaraan yang didefinisikan ulang dalam hal meritokrasi kompetitif. Beck (2000: 1) dapat menyatakan bahwa “tidak disengaja konsekuensi dari neoliberal utopia pasar bebas adalah Brazilinisation dari barat seolah-olah yang terakhir tidak pernah strategi sadar laissez faire konservatisme (Pelakunya, 1999) juga tidak dia. tampaknya mempertimbangkan kemungkinan bahwa individualisasi sendiri mediasi dari konflik.

Kebijakan sosial mungkin karena itu disarankan disarankan untuk mengambil pendekatan yang berbeda untuk refleksivitas. Hoggert (2001) mengusulkan skala refleksivitas yang melintasi dimensi kedua mengartikulasikan sejauh mana diri bisa dan tidak bisa membentuk lingkungannya.

Community

Terdapat tiga dari perdebatan kontemporer yang paling penting tentang masyarakat dan untuk melakukannya dengan referensi khusus untuk lembaga, yaitu :

Stakeholding             

Mengacu pada spektrum yang luas dari orang-orang yang terpengaruh oleh sebuah organisasi, stakeholder menunjukkan populasi yang lebih luas dan lebih beragam kepentingan daripada baik stakeholder atau pemegang saham (Kelly et al, 1997). Sedangkan istilah ini mengacu hanya kepada pemegang stok dan pembagian, stakeholder dapat termasuk pegawai, pemasok, pelanggan, ataupun komunitas lain yang relevan.

Perdebatan teoritis kesejahteraan  tentang stakeholder telah cukup diredam, sebagian karena ketidakjelasan retoris dan sebagian karena itu dengan cepat diterjemahkan ke dalam istilah teknis dengan sedikit pengakuan luar lingkaran karya kebijakan.

Stakeholder tampaknya menempatkan penekanan pada konsensus daripada konflik, atas apa yang menghubungkan daripada apa yang memisahkan. Tetapi jika mereka tidak entah bagaimana hubungan telah mencair di bawah tatapan sosiologis kemudian tidak memiliki pertempuran tua, maupun jejak kaki ideologis yang telah membawa kita ke tempat kita berada. Ini bukan untuk mengatakan bahwa pemangku kepentingan adalah konsep yang harus dibuang. Stoney dan Winstanley (2001: 618-22) meninjau formulasi yang lebih radikal yang memiliki dalam arti telah terinspirasi oleh ide stakeholder dan hal ini tentunya mungkin untuk membangun model egaliter kepemilikan sosial yang berutang sesuatu untuk perdebatan.

Trust

Pentingnya kepercayaan untuk masyarakat dan ekonomi. Ide dasar menjadi kepercayaan yang merupakan kekuatan penting untuk integrasi komunal, kemakmuran ekonomi dan kesehatan moral masyarakat. Kekuatan Thi memanifestasikan dirinya paling jelas pada tingkat mikro, dalam kepercayaan bahwa kita menunjukkan arah kolega dan kenalan, teman, dan tetangga, pecinta dan orang asing.

Kesejahteraan ekonomi tergantung tidak hanya pada kode yang terlihat yang mengatur properti; kontrak pertukaran dan kerja, tapi akhirnya pada saluran sarang lebah dan jaringan melalui interaksi sosial beredar. Demikian pula, kemudian, kesejahteraan sosial juga tergantung pada naluri komunal kepercayaan. Dalam masyarakat kepercayaan rendah individu cenderung untuk membuat connectiond baru atau untuk mempertahankan yang lama, sehingga lebih kecil kemungkinannya untuk menemani tiba-tiba dirinya pada orang lain melalui pengakuan umum dari identitas bersama, sejarah nasional dan pengalaman budaya.

Percaya itu sendiri tergantung pada konteks kelembagaan mendukung dan harus terus dipelihara dan bukan diambil untuk diberikan, adalah sesuatu yang baik kanan dan kiri dapat dituduh mengabaikan. Aliran kanan dapat didakwa dengan melupakan peran yang dimainkan oleh ikatan budaya dalam pengembangan awal kapitalisme dan dengan tergantung pada konsepsi berongga dari agen sosial sebagai sedikit lebih tahn sebuah Maximiser utilitas yang prioritas besar harus mengejar kepentingan diri sendiri dalam pasar impersonal (Fukuyama, 1995: 17-21). Aliran kiri dapat diisi dengan merusak bentuk sosialisasi melalui mana kepercayaan dibudidayakan.

Para peneliti telah membedakan antara dua jenis gerakan siklis. Dalam kepercayaan lingkaran berbudi luhur dalam sistem politik, sektor publik dan sesama warga seseorang berarti bahwa orang akan mengirimkan sumber daya dan kesetiaan kepada negara, memungkinkan untuk mencapai tujuan secara efektif dan dengan demikian menarik tingkat lebih lanjut kepercayaan imbalan; kita lebih cenderung untuk percaya ketika kita berada, pada gilirannya, dipercaya.

Social Capital

Kekuatan kontribusi Putnam adalah dua kali lipat. Pertama, ia menjalin banyak helai yang berbeda bersama-sama, mengungkapkan interkoneksi antara lembaga dan masyarakat dengan efektivitas yang lebih besar daripada banyak rekan-rekannya. Kontribusi kedua yang dibuat oleh Putnam adalah tesis bahwa modal sosial telah menurun untuk beberapa waktu sekarang, dilambangkan oleh orang yang lebih suka pergi bowling sendiri bukan di tim dengan orang lain.

Ada tiga kritik bahwa kita mungkin melemparkan di Putnam. Pertama, beberapa telah mempertanyakan tesis utamanya penurunan. Misalnya, Wellman dan Haythornthwaite (2001) objek pada kesimpulan bahwa modal sosial adalah kurang mungkin menjadi konsekuensi dari komputer-dimediasi interaksi (Putnam, 2000-177). Singkatnya, banyak yang curiga terhadap modal sosial karena membuang signifikansi politik kelas dan membuat “modal” sebagai indikator sederhana koneksi antar bukan sebagai hubungan sosial ekonomi yang ditandai dengan perebutan kekuasaan.

Class

Dua perdebatan yang berkaitan dengan kelas dan perubahan sosial. Pertama kembali kita untuk pertanyaan dari sejauh mana kita berada dalam kendali, dan sehingga dapat bertanggung jawab atas, keadaan kita, dan kekhawatiran kedua peluang untuk tindakan kolektif dalam konjungtur sosial saat ini.

Circumstances

Individu tidak dapat bertanggung jawab atas latar belakang sosial ekonomi dan latar belakang keluarga atau bakat mereka, karena membayangkan jika adalah berpura-pura bahwa anak-anak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk melakukan kontrol sosial.

Collective action

Keadaan tidak layak benar-benar memainkan peran penting dalam urusan sosial maka  kita bisa benar-benar membentuk lingkungan sosial kita. Solusi untuk yang politik radikal yang selalu tercapai adalah tindakan kolektif, gagasan bahwa kita dapat mencapai kolektif apa yang kita tidak bisa melakukannya secara terpisah. Tindakan kolektif adalah subyek besar yang dibahas dalam Fitzpatrick (2001: 13-19) dalam hal masalah memutuskan apa yang baik sosial dan bagaimana hal itu dapat direalisasikan.

 

[PENUTUP]

Sekian  pemaparan sederhana mengenai konsep sosial capital dan agen, komunitas serta kelas-kelas sosial. Dengan pemaparan konkrit mengenai konsep-konsep diatas, penulis berharap makalah ini dapat dijadikan bahan referensi bagi pelajar maupun praktek bekerja sosial.

 

Rangkuman oleh : Ahmad Rofai, Silvi Permatasari, Gestivia Hakim, Windy S. Rahayu

 

REFERENSI

[1] Harriss, John. (2001). Depoliticizing Development: the World Bank and Social Capital. New Delhi: Naya Rasta Publishers Pvt.Ltd

[2] Fitzpatrick, Tony. (2005). New Theories of Welfare. New York: Palgrave Macmillan.

[3] Halpern, David. (2005). Social Capital. Cambridge: Polity Press

 

Sumber gambar : singaporepolicyjournal.com

One thought on “Social Capital

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: