Meminimalisasi Dampak Konflik Multikulturalisme Indonesia


Multikulturalisme merupakan kondisi dimana masyarakat terdiri dari banyak dan percampuran budaya, ras, dan agama. Karena perbedaan itulah, rawan akan munculnya sikap individu maupun kelompok yang saling meninggikan budaya sendiri, lalu menganggap rendah kelompok/etnis atau budaya lain, kemudian timbulah konflik. Contoh konflik atas perbedaan kelompok  (multikultur itu sendiri adalah): (a) pemusnahan terhada kelompok etnis baru pada peristiwa Sanggau LLedo, Sambas, Sampit (konflik antara suku dayak/melayu dengan Madura). (b) Peristiwa Ambon-Poso (konflik antaragama).

Dalam berbagai kasus konflk antarkelompok tersebut, yang paling penting dan memiliki urgensi lebih untuk diprioritaskan adalah melihat sumber atau alasan mengapa konflik terjadi, ketika hal ini kita kaji terlebih dahulu, lalu berusaha untuk mencari solusi alternatif akan hal itu.  maka akan berpengaruh pula terhadap berkurangnya (minimalisasi) dampak konflik  di masyarakat. Dalam kata lain, cara yang paling tepat untuk meminimalisasi dampak konflik adalah dengan  menekan angka terjadinya konflik itu sendiri.

Dalam beberapa literasi yang telah penulis baca, adapun sumber mengapa terjadi konflik antarkelompok etnis,agama, ras itu terjadi di Indonesia karena:

pemahaman seorang yang relatif  terbatas tentang pluralitas kultural, sehingga memunculkan sikap etnosentrisme, streotipe dan prasangka atas kelompok lain yang dianggap berbeda.

Adapun cara dan alternative dalam menangani hal yang menjadi sumber mengapa teradinyakonflik adalah dengan, peran pemerintah yang secara aktif membangun

1. Komunikasi antarbudaya

Sebagai bagian dari masyarakat multikultur, selama kita belum/tidak melakukan komunikasi budaya yang efektif, sebuah relasi antar manusia yang bertujuan untuk meminimalisisr adanya kesalahpahaman budaya. Basis kebijakan yang dimaksud adalah membangun model komukasi yang memungkinkan setiap kelompok kultural dapat menjalin komunikasi yang setara sebagai hasil negosiasi identitas kultural diantara kelompok-kelompok yang ada. Dalam gagsan komunikasi antar budaya, terdapat dua model komunikasi:

  1. Gagasan third- culture building : sebuah situasi dimana keduabelahpihak memahami perlunya menciptakan respon-respon yang didasarkan pada nilai-nilai, komunikasi, dan sistem organisasi yang dikembangkan bersama.
  2. Gagasan multikluralisme : sebuah sikap menghargai dan berusaha melindungi keberagaman yang ada.

2. Adanya serta terbentukya pendidikan multikulural

James Banks (2001)  berpendapat bahwa pendidikan multikultural merupakan suatu rangkaian kepercayaan dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dana etnis didalam bentuk gaya hiidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari individu, kelompok, maupun negara. Pendidikan multikultural menyangkut tiga hal, yakni :

  1. Ide dan kesadaran nilai pentingnya keragaman budaya
  2. Gerakan pembaharuan pendidikan
  3. Proses pendidikan à pendidikan multikultural merupakan proses belajar yang berlangsung terus menerus.

REFERENSI

[1] Artikel, ditulis oleh Turmono Rahardjo, “Memahami Kemajemukan Masyarakat Indonesia; Perspektif Komunikasi Antarbudaya”

[2] Artikel, ditulis oleh Prof.Dr.Farida Hanum, M.Si., “Pendidikan Multikultural dalam pluralism bangsa

Sumber gambar :  slideshare.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: