Masalah Tingkah Laku dan Pelayanan


Resume oleh

Ahmad Rofai

Puti Rani Aisyah

Rizki Maulana

Nur Afifah

Ayu Asri Fauziah

2014, Universitas Indonesia

Dari beberapa kasus yang ditemui, banyaknya variasi dari berbagai pandangan tentang emosional dan masalah perilaku disebabkan oleh perbedaan wewenang. Banyaknya perilaku aneh ini terjadi karena kesehatan jiwa mereka tidak baik. Albert Ellis, seorang psikologi terkemuka menjelaskan tentang perbedaan penjelasan yang menawarkan janji yang patut dipertimbangkan untuk memahami dan mengobati orang yang melakukan perilaku aneh. Ellis juga menegaskan bahwa jika kita melihat proses perilku berpikir mereka ketika melakukan pelanggaran yang tidak biasa. Kita akan mendapatkan pemahaman tentang :
A. Mengapa tindakan/perilaku aneh terjadi

  1. Apa tindakan untuk mencegah perilaku aneh terjadi
  2. Pelayanan dalam bentuk apa yang dibutuhkan sekarang untuk mencegah pelanggaran mulai awal sampai akhir setelah mereka melepaskannya.

Ellis menegaskan bahwa determinasi utama dari keseluruhan perilaku adalah pikiran kita (pemikiran tentang perilaku). Semua masalah dapat diinterpretasikanakan dan dibantu melalui penerapan konsultasi. Konsultasi yang dilakukan oleh pelaku perilaku aneh dapat membantu mengatasi masalah mereka.

Nature and Extent of Emotional and Behavioral Problems

Emosional dan perilaku adalah masalah yang sangat komprehensif. Label yang menunjukkan masalah ini seperti depresi, perasaan yang terisolasi, patah hati, hubungan yang tidak baik antara anak dan orang tuanya, kesulitan, agresifitas, phobia, dll. Masalah – masalah ini merupakan masalah yang kerap kali terjadi di kalangan masyarakat. Hal ini terjadi karena secara psikologi perilaku depresi dan kegelisahan mereka berlebihan. Menurut beberapa penelitian kegelisahan dan deperesi yang berlebihan menyebabkan perilaku yang menyimpang. Hal ini yang menyebabkan kasus ini setiap tahunnya bertambah.

Kebayakan masalah atau gangguan dari hubungan antara emosi dan perilaku terjadi karena perbincangan sehari-hari. Kita sering kali menggunakan kata-kata yang tidak mengenakkan terhadap lawan bicara kita layaknya kita mendikte seseorang dengan ekspresi yang membuat orang lain emosi. Hal inilah yang sering kali terjadi mengapa seseorang tiba-tiba berperilaku aneh. Kebayakan orang emosi karena orang lain yang tidak mengerti bagaimana lawan bicaranya. Seperti contoh ketika kita memberikan label seseorang dengan julukan “bodoh” secara seketika orang tersebut akan emosi atau berperilaku aneh layaknya orang yang depresi dengan sebutan tersebut.

Medical Model

Mode pendekatan medis menunjukkan emosi dan perilaku merupakan masalah dari kesehatan jiwa yang terganggu. Pendekatan ini mempercayai bahwasanya seseorang yang terkena gangguan pikiran merupakan dampak dari beberapa ketidaktahuannya mengenai kondisi internal secara umum. Model medis ini merupakan model yang mengkaji tentang bagaimana perilku seseorang dipengaruhi oleh kondisi yang ada dalam dirinya secara psikologis.

Bukti nyata sebagai validitas dari pendekatan model medis datang dari pembelajaran mengenai beberapa gangguan mental, misalnya skizofrenia, mungkin diakibatkan oleh bawaan  genetik (keturunan). Bukti yang paling signifikan muncul dari pembelajaran tentang orang kembar. Sebagai contoh, orang kembar yang serupa memiliki kemungkinan (salah satunya) untuk terkena skizofrenia sekitar 50%. Sedangkan kisaran penderita skizofrenia dalam populasi yang lebih umum sekitar 1%. Ketika seseorang yang kembar diidentifikasi sebagai penderita skizofrenia, kembar yang satunya rata-rata memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi penderita skizofrenia juga. Hal ini seolah-olah memberi kesan pengaruh hal tersebut adalah faktor gen, tetapi bukan mutlak ditentukan oleh faktor genetik, karena identifikasi terhadap orang kembar yang dilakukan hanya 50% bukan 100%.

Model Interaksional

Kritik atas pendekatan penyakit-mental menyatakan bahwa label medis berupa diagnosis atau perawatan seringkali membawa dampak yang merugikan.

Thomas Szasz, pada 1950, adalah yang pertama menyatakan bahwa penyakit mental adalah sebuah mitos- itu tidak ada. Teori Szasz merupakan interaksional, yang berfokus pada proses ineraksi sosial sehari-hari dan efek dari pencapan (labeling) terhadap masyarakat. Bermula dari asumsi penyakit mental disebut sebagai “penyakit di dalam pikiran”, Szasz mendiskusikan ketidaktepatan penyebutan seperti kesulitan orang “berpenyakit mental” dan mengkategorikan semua sebutan penyakit mental tersebut kedalam tiga tipe berdasdarkan gangguan emosional/ tingkah laku:

  1. Ketidakmampuan seseorang (orang yang cacat), misalnya terlalu khawatir, depresi, ketakutan, dan ketidakcakapan dalam merasa.
  2. Tindakan antisosial, misalnya pembunuhan dan penyimpangan sosial lainnya. Homoseksual masuk kedalam kategori ini tetapi dihapus oleh Asosiasi Psikiatri Amerika pada tahun 1974.
  3. Kemunduran fungsi (kinerja) otak yang berakibat pada perubahan kepribadian seseorang.

 

Orang yang terkena label bahwa dirinya sedang terkena penyakit mental, beranggapan bahwa dirinya telah memiliki penyakit yang tidak diketahui obatnya, sehingga mereka mersa bebas untuk tidak merasa bersalah atas tindakan aneh yang mereka perbuat. Mereka lebih memilih untuk menunggu seseorang menemukan sebuah obat, dibandingkan dengan mencari alasan mengapa mereka bertindak aneh juga memikirkan pertangggungjawaban atas hal-hal yang dilakukan.

Hal diatas erat kaitanya dengan sebuah teori looking glass self yang dikemukakan oleh cooley, yang mengatakan bahwa “seseorang” membangun konsep tentang dirinya sebagaimana orang-orang bereaksi/beranggapan tentang apa yang “seseorang” lakukan tersebut. Para penganut pendekatan interaksi mengemukakan bahwa “sakit mental” adalah mitos (ketiadaan). Mereka perpendapat bahwa orang yang terlabeling sakit mental atas dua alasan, yakni, mereka memiliki emosi hebat yang tak diingikan, atau mereka memiliki kelakuan yang menyimpang.

Berbagai pertanyaan muncul atas pernyataan Szasz yang mengatakan bahwa “sakit mental” adalah mitos, “jika sakit mental adalah mitos, lalu mengapa ada beberapa melakukan tindakan aneh soelah-olah mereka sedang sakit gila?”. Thomas Scheff mengidentifikasi bahwa telah mencapai ribuan penelitian jangka panjang tentang “sakit mental”. Dalam prakteknya semau penelitian tersebut fokus pada penyebab internalnya (seperti gangguan metabolisme, ketidakseimbangan kimia, faktor keturunan). Namun meskipuun telah dilakukan investigasi menyeluruh penentu/penyebab gangguan mental kronik seperti skizofrenia masih belum dapat diketahui.

Shceff mengatakan bahwa terjadi kesalahan dalam penelitian, dia mengungkapkan bahwa penentu/faktor penting penyebab gangguan mental bukan pada dalam diri (internal) seseorang, melainkan proses sosial. Setiap orang ketika melihat seseorang yang berperilaku diluar nilai norma yang berlaku, akan dianggap (labeled) sebagai orang yang memiliki gangguan jiwa (gila). Hal ini berdampak pada diri seseorang yang akhirnya mendeskripsikan dirinya gila atas apa yang orang-orang lain pikirkan tentangnya. Scheff menyimpulkan bahwa labeling merupakan satu penyebab yang paling signifikan dalam gangguan jiwa kronik.

Tunawisma

Terdapat banyak orang-orang yang tidak memiliki rumah hidup dijalan, mencari makanan di kotak sampah. Terestimasi 13% dari mereka yang tidak memiliki rumah tekena gangguan mental yang serius. Di banyak area dalam sebuah negara terjadi pemecatan terhadap mereka yang sakit mental dari rumah sakit, hal ini terjadi karena kurangnya dukungan dari komunitas lokal. Peningkatan pertumbuhan tunawisma semakin meningkat hari-hari ini.

Struktur Sosial dan Gangguan Jiwa

Berdasarkan diagnosis mental illness dibawah ini faktor-faktor social penyebab gangguan mental:

  • Urbanisasi
  • Umur
  • Status Pernikahan
  • Seks
  • Gender
  • Ras
  • Dalam masa peperangan

Pendampingan

Brief History

Berdasarkan kepercayaan adat dan lingkungan yang ada, percaya kepada hal-hal mistis, mitos. In 18th century, kebiasaan adat mulai di tolak dan mengarah ke psychoanalysis seperti memodifikasi kebiasaan, rational terapi, reality terapy, family terapy, etc. in 19th century, mental illness merupakan physical illness berupa infeksi penyakit, keturunan, metabolism yang kurang seimbang yang mempengaruhi mental disorder.

Current Trends

Dalam 35 tahun  terakhir, terdapatduapokokdalam treatment (penyembuhan), yaitu penemuan dan penggunaan psychoactive drugs dan yang kedu  aadalah deinstitutionalization.

 Fasilitas penyembuhan : Komunitas Kesehatan Mental

Penekanannya ada pada perawatan local dan  penyediaan layanan yang komperhensif, diagnose dini, lokasi penyedia layanan serta penyediaan perawatan

Pekerjaan sosial dan Kesehatan Mental

Selama bertahun-tahun, telah terjadi pergeseran penekanan dari mengobati individu untuk mengobati keluarga. Pekerja sosial, psikolog, dan psikiater sekarang berfungsi secara bergantian sebagai terapis individu, keluarga, dan kelompok. Semua tiga kelompok profesional juga terlibat dalam merancang dan mengelola program kesehatan mental. Profesional lain yang terlibat dalam bekerja sebagai tim dalam fasilitas kesehatan mental meliputi perawat kejiwaan, terapis okupasi, dan recreational therapists.

Konseling

Konseling merupakan kunci utama keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerja sosial, bahkan merupakan keterampilan yang paling penting. Agen spesialis yang memberikan pelayanan konseling untuk masalah yang lebih spesifik, memerlukan latar belakang pengetahuandan pelatihan yang tinggi dalam menggunakan teknik penyembuhan.

Setiap orang memiliki potensi untuk menolong orang lain dengan mendengarkan dan berbicara. Konseling dapat dilakukan oleh siapa saja, namun seorang professional memerlukan kompetensi dan empati dibandingkan dengan derajatdansertifikat untuk hasil yang diinginkan. Terdapat tiga  tahap konseling, yaitu membangun hubungan, mendalami masalah, dan mencari alternative solusi. Keberhasilan dari konseling dilakukan secara bertahapdengan saling keterkaitan tahap satu dengan lainnya.

MembangunHubungan

  1. Membuat klien merasa nyaman untuk menyampaikan segala macam
  2. Membangun citra sebagai orang yang berusaha mengerti dan ingin
  3. Bersikap
  4. Menghormati nilai yang ada pada klien, jangan menghakimi terlebih
  5. Perlakukan klien Jangan  memperlakukan  klien sebagai orang yang bermasalah.
  6. Memilih kosakata yang tepat agar tidak menyinggung
  7. Menggunakan intonasi yang dapat menyampaikan rasa empati kepada
  8. Menjaga
  9. Tidak terbawa perasaan atau situasi (apabila klien adalah orang dekat).

 MendalamiMasalah

  1. Jangan cepat mengambil keputusan tanpa mendalami
  2. Konselor dan klien perlu mengetahui perluasan masalah sebelum mengambi lalternatif
  3. Jelajahi setiap bagian dari
  4. Selesaikan masalah dari yang paling membuat klien
  5. Bersikaplah empati, bukan
  6. Percaya
  7. Lebih berkomunikasi setelah mengena ke inti
  8. Bijaksana dalam mengajukan
  9. Menentukan batasan masalah tanpa melibatkan client.
  10. Memperhatikan tingkah laku dan ekspresi klien dalam menyampaikan
  11. Jujur
  12. Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang klien

Mencari Alternatif Solusi

  1. Mempertimbangkan alternative solusi.
  2. Ketetapan hati untuk memilih solusi alternative yang mungkin.
  3. Konseling dilakukan (dengan) klien, bukan (untuk) atau (kepada) klien.
  4. Tidak memilih alternative yang kemungkinan besar merugikan klien dan orang lain.
  5. Menekankan kontrak dengan bentuk yang jelas dan
  6. Mempertanyakan kontrak selanjutnya jika masalah belum
  7. Memilih situasi yang dapat memotivasi
  8. Menjelaskan apa yang akan di dapatdari perjanjian untuk meningkatkan
  9. Menggunakan aturan main (prosedur) jika klien tidak memiliki cukup kepercayaan diri dan

Pendekatan Konseling secara komprehensif dan spesialis

Dibutuhkan pengetahuan untuk mendiagnosa masalah yang ada secara tepat.  Ada beberapa pendekatan konseling kontemporer komprehensif seperti : psychoanalysis, rational therapy, client-centered therapy, Adlerian psychotherapy, behavior modification, Gestalt therapy, reality therapy, transactional analysis, neurolinguistic programming, dan encounter approaches.

Terdapat lima cara untuk mengubah emosi  yang  tak diinginkan.  Tiga diantaranya secara konstruktif : Meaningful Activity, Changing Self-Talk, Changing the Distressing Event. Dan dua secara destruktif :penyalahgunaa nobat-obatan dan bunuhdiri.

 

KAREN-ASHMAN

PEKERJAAN SOSIAL DAN PELAYANAN KESEHATAN JIWA

Ada beberapa sketsa yang menggambarkan berbagai aspek emosional, psikologis, dan perilaku masalah, atau biasa disebut  penyakit mental, masalah social yang serius .

  • Serangan Panik (sejenis gangguan kecemasan) : Jennifer (18 tahun)  , seorang wanita muda yang terbiasa meminum wiski murah untuk menghindari serangan panic yang secara tiba-tiba menyerang dirinya .
  • Depresi : Larry ,seorang mahasiswa perguruan tinggi yang tertekan. merasa segala sesuatunya tampak gelap dan suram . dia merasa nilai-nilainya sangatlah buruk ,orang tuanya kecewa padanya, dan dia merasa kalau orang-orang tidak menyukai nya dan tidak ada yang peduli padanya mau dia hidup ataupun mati .
  • Skizofernia : Aquinnah (38 tahun) membunuh ibunya (71 tahun). Dia hanya mengikuti suara-suara yang ada di kepalanya untuk mengambil sebuah pisau dapur yang besar untuk melakukan itu . dia mengidap skizofernia pada usia 18 tahun .
  • Gangguan stress pasca trauma : Roger (51 tahun) ,semenjak dia meninggalkan militer dia bekerja tak menentu di konstruksi . roger mengatakan bahwa dia selalu teringat saat masa-masa dalam peperangan , sulit tidur, dan mudah marah . Perhatikan fakta-fakta berikut: Lebih dari seperempat dari orang di dunia  akan mengembangkan beberapa bentuk penyakit mental selama hidup mereka (Greeno, 2008).
  • Setidaknya40% dariorang dengan penyakit mentaltidak menerimapengobatan untuk
    kondisi mereka sendiri  (Kornblum & Julian, 2007).
  • Sekitar3,5 jutaorang mengalamibentuk-bentukekstrimdaripenyakit mental
    seperti skizofrenia dan manic-depressive disorder setiap tahunnya (Kornblum &
    Julian, 2007).

Profesional pekerja sosial adalah kelompok terbesar penyedia kesehatan mental di Amerika Serikat, yang terdiri dari 60% profesional inti kesehatan jiwa. (termasuk psikiater, psikologi, dan perawat ) (Gibelman 2005, hlm.43-44).

Tujuan pembelajaran

  1. Review berbagai pengaturan kesehatan mental sebagai tempat pekerja social berlatih.
  2. Mengidentifikasi dan membahas berbagai diagnosa psikiatriuntuk
    masalah kesehatan jiwa .
  3. Mengidentifikasi beberapa fungsi pekerja sosial yang muncul dalam penganturan kesehatan mental .
  4. Mengidentifikasi beberapa kecenderungan dalam praktek berbasis buktidalamkesehatan mental.
  5. memeriksa managed care dalam konteks kesehatan mental.
  6. mengamati masalah kompetensi budaya dalam pengaturan kesehatan mental,
    mengidentifikasi hambatan banyak orang dari warna wajah dalam mengakses layanan, dan menyarankan cara untuk meningkatkan kompetensi budaya.
  7. Mendorong pemikiran kritis tentang efektivitas Diagnostik dan statistik manual-IV-TR sebagai sistem penilaian utama untuk  penyakit mental, pro dan kontra terapi electroconvulsive, yang sebenarnya bermaksud mengelola perawatan penyakit mental, dan kebijakan nasional isu-isu kesehatan mental .

Kesehatan Mental, Penyakit Mental , dan Peran Pekerja Sosial

Kesehatan mental adalah keadaan psikologis dan emosional yang relative dimana seorang individu dapat membuat suatu keputusan yang diterima secara rasional, dapat mengatasi tekanan didalam dan diluar diri, dan dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat .

Penyakit mental adalah salah satu dari berbagai psikologis, emosional, atau gangguan kognitif yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara efektif, bisa jadi penyebabnya adalah biologi, kimia, fisiologis, genetic, psikologis, atau social. Gejala penyakit mental yaitu kecemasan yang ekstrim, terganggunya proses berfikir, persepsi distorsi, variasi suasana yang ekstrim, dan kesulitan lainnya dalam berfikir (USDHHS,1999)

Para pekerja social bersama dengan para professional di bidang terkait berjuang untuk mengadakan fasilitas kesehatan mental termasuk rawat inap, rumah sakit jiwa, unit psikiatri di rumah sakit umum ,dll.

The least restrictive setting on a continuum of care : empowering clients

Sebuah konsep penting dalam perawatan kesehatan mental adalah  pengobatan klien dengan berbagai aturan batasan. Peraturan yang memungkin klien secara maksimum menentukan nasibnya sendiri namun dari sisi lain pasien juga mendapatkan intisitas pengobatan yang efektif .

  • Rawat Inap Mental dan Rumah Sakit Jiwa

Rawat Inap berarti bahwa klien berada pada suatu fasilitas untuk jangka  waktu tertentu. Tergantung masalah yang dihadapi, waktunya bisa sangat singkat tapi bisa jadi seumur hidup .

  • Pusat Perawatan untuk Anak-anak dan Remaja

Sebuah area dimana kesejahteraan anak dan kesehatan mental digabung yaitu perumahan pusat pengobatan dan rumah untu anak anak. RTC adalah lembaga yang menyediakan anak-anak yang memiliki masalah perilaku dan emosional yang serius .

  • Rumah-rumah Kelompok

Anak-anak ditempatkan di rumah-rumah kelompok yang tidak lebih ekstrim dari RTC. Namun, kelompok  rumah juga bervariasi secara dramatis dalam hal intensitas pembatasan .

  • Unit Psikiatri di Rumah Sakit Umum

unit kejiwaan di rumah sakit umum menawarkan perawatan kejiwaan secara sementara bagi orang orang dalam krisis .

  • Rawat Jalan agen perawatan

Lembaga pengobatan rawat jalan menyediakan individu,kelompok, dan keluarga konseling untuk mengatasi berbagai masalah mental. Sebuah asosiasi layanan keluarga adalah lembaga pengobatan jenis rawat jalan yang menawarkan berbagai jenis konseling .

  • Program bantuan karyawan

Program bantuan karyawan  merupakan layanan yang disediakan oleh organisasi yang focus pada kesehatan mental para pekerja dan masalah dalam penyesuaian yang mempengaruhi kinerja mereka.  Dua isu yang di pegang oleh pekerja sosial yaitu kerahasiaan dan bohong.

Community Mental Health Centers: A Macro Response to Individual Needs

Pusat komunitas yang menyediakan berbagai layanan dari perawatan kesehatan mental untuk pendidikan tentang pencegahan penyakit mental .

  1. Manajemen kasus : menilai kebutuhan klien, mencadangkan layanan, penyediaan koordinasi layanan, penyediaan layanan koordinasi, dan memantau efektifitas.
  2. Anak dan layanan remaja : bertujuan untuk meningkatkan fungsi keseluruhan dari anak dan klien remaja .
  3. Informasi dan program pendidikan : staf termasuk pekerja social memndidik masyarakat.
  4. Program kepeduliaan masyarakat jangka panjang : melayani orang dengan penyakit mental secara berkelanjutan
  5. Program hari pengobatan : memeberikan kegiatan untuk orang dengan penyakit mental.
  6. Program terapi obat : memberikan pengobatan, termasuk individu dan konseling kelompok .

Klien dengan Masalah Kesehatan Mental

sistem klasifikasi yang digunakan untuk mendefinisikan dan mendiagnosis
penyakit mental adalah Diagnostik dan Statistik. Demensia adalah keadaan di mana orang mengembangkan banyak masalah kognitif karena beberapa masalah medis. Penyakit Alzheimer adalah jenis umum dari demensia asal tidak diketahui, ditandai dengan penurunan mental dan biasanya terjadi pada usia pertengahan.

Skizofrenia dan Gangguan Psikotik Lainnya

Skizofrenia adalah gangguan mental yang berat ditandai oleh delusi; halusinasi; bingung kata-kata tidak koheren ; perilaku aneh; emosional ; respon verbal kosong yang tidak perhatian; dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam tujuan kegiatan diarahkan
Skizofrenia adalah salah satu bentuk yang paling umum dari psikosis-salah satu dari sejumlah penyakit mental yang serius  kelainannya ditandai oleh terganggu, perilaku yang tidak pantas dan “hilangnya kontak dengan realitas” (Pickett, 2002, p. 1125). Psikosis sering dikontraskan dengan neurosis, gangguan mental yang ditandai dengan “perasaan kecemasan, pikiran obsesif, tindakan kompulsif, dan keluhan fisik tanpa bukti obyektif penyakit “yang terjadi” dalam berbagai derajat dan pola “(Nichols, 1999, hal. 888). Psikosis kadang-kadang dianggap sebagai lebih parah dari neurosis karena orang psikotik kehilangan kontak dengan realitas. kuncinya konsep yang terlibat dalam neurosis adalah kecemasan dan perilaku yang dihasilkan dari bentuk-bentuk ekstrem.

Bipolar Disorders

Bipolar disorders adalah keadaan di mana penderita mengalami perubahan mood atau sikap yang tiba-tiba. Penderita biasanya mengalami manic episodes antara lain: perubahan emosi yang abnormal, perasaan euphoria, dan pergerakan yang berlebihan. Lalu, mereka juga akan mengalami hypomanic episode seperti marah-marah yang berlebihan.

Anxiety Disorders       

Anxiety disorders adalah keadaan di mana penderita mengalami kegelisahan yang luar biasa, biasanya ditandai dengan ketakutan yang berlebihan, detak jantung yang cepat, pusing, keringat dingin, dan napas yang terburu. Contoh anxiety disorders adalah panic attacks dan posttraumatic stress disorder (PTSD-keadaan di mana penderita mengalami depresi akibat terngiang kejadian-kejadian yang traumatik, seperti pelecehan seksual). James (2008) menyatakan kadangkala penderita mencari self-medication dengan bantuan obat-obatan terlarang dan alkohol. Namun, pengaruh dari self-medication ini hanya berlangsung sementara.

War Veterans and Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)

Veteran perang yang sudah purnatugas seringkali mengalami posttraumatic stress disorder (PTSD). Mereka mengalami kecanggungan sosial di mana ketika mereka sering berada di medan perang, sekarang mereka berada di lingkungan rumah. Mereka selalu khawatir apakah orang yang mereka temui bukanlah orang jahat. Kanel (2007) menjabarkan treatment­ yang bisa diatasi untuk mengatasi posttraumatic stress disorder (PTSD), antara lain:

  1. Petugas dapat menginfokan bahwa PTSD adalah gejala normal pada orang dengan kondisi stress yang berlebihan. Cara ini juga membantu klien mengatasi perasaannya (marah, malu, atau merasa bersalah) dengan cara menyulut traumanya di tempat yang aman dan terkendali.
  2. Cognitive-behavioral Techniques. Klien diajarkan untuk relaksasi, latihan pernapasan, serta mengatur emosi.
  3. Group Theraphy. Petugas membuat suatu kelompok berisi orang-orang yang memiliki permasalahan yang sama dan mereka diajak untuk saling berbagi pengalaman dan cerita untuk saling menguatkan.
  4. Ini juga berguna untuk mengurangi kecemasan, insomnia, dan depresi yang dialami klien.

Selain PTSD, veteran perang juga bisa mengalami “signature injury“ yaitu, Traumtic Brain Injury (TBI). Ini adalah keadaan di mana veteran mengalami gegar otak (kerusakan pada saraf otak) akibat bom atau terjatu dari kendaraan tempur yang mengharuskannya belajar berbicara, berjalan, dan berbagai keterampilan motorik lainnya.

Dissociative Disorders

Dissociative disorders adalah keadaan di mana penderita mengalami gangguan pada fungsi kesadaran yang terintegrasi, memori, identitas, atau persepsi. Contoh gangguan ini adalah adalah dissociative identity disorder atau multiple personality disorder di mana penderita dapat memiliki lebih dari satu identitas dalam satu orang.

Sexual Disorders

Sexual disorders adalah gangguan yang terkait dengan respon seksual dan kelakuan, seperti sexual arousal disorders (masalah seksual yang dapat mengakibatkan keadaan mental seseorang yang sukar), orgasmic disorders (masalah meraih orgasme), dan paraphilias (gangguan seksual yang biasa terjadi pada pria, seperti fantasi yang berlebihan, dan lain sebagainya).

Eating Disorders

Eating disorders adalah gangguan yang terkait dengan perubahan pola makan yang luar biasa. Ada dua macam dari gangguan ini, yakni anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Penderita kedua bentuk gangguan ini terobsesi memiliki penampilan yang “kurus” dan ideal. Meskipun mereka sudah memiliki bentuk tubuh yang bagus, mereka tetap merasa bahwa mereka gemuk.

Anorexia Nervosa

Anorexia Nervosa mayoritas dialami oleh pemudi di mana mereka merasa selalu gemuk, sehingga mereka memaksakan diri untuk lapar, menolak makanan, mengembangkan persepsi tentang makanan, olahrga berlebihan, dan makan hanya yang memiliki kalori rendah. Dewasa ini Anorexia Nervosa juga dialami oleh para pemuda.

Bumilia Nervosa

Bumilia Nervosa juga kebanyakan dialami oleh wanita. Gejalanya adalah keinginan untuk selalu tampil kurus tetapi kesesusahan dalam menahan untuk tidak makan banyak sehingga mereka melakukan berbagai macam cara untuk kurus, seperti memuntahkan makanan, menggunakan obat pencahar, serta olahraga berlebihan. Bumilia Nervosa memiliki pola yang biasanya dialami oleh para penderitanya, antara lain:

  1. Penderita memiliki keinginan untuk memiliki tubuh kurus
  2. Penderita memulai diet tetapi adanya keinginan untuk makan seperti normal
  3. Penderita mulai stress dan mulai makan secara berlebihan agar senang
  4. Penderita merasa bersalah karena telah makan berlebihan dan berat badannnya naik
  5. Penderita mulai melakukan berbagai cara untuk meraih bentuk ideal lagi seperti memuntahkan makanan, menggunakan obat pencahar, serta olahraga berlebihan
  6. Penderita ketergantungan dengan cara-cara di atas
  7. Dikarenakan rasa bersalah dan malu, penderita mendapat semangat untuk terus-terusan melakukan cara-cara pada fase 5

Treatment Approaches for Anorexia and Bulimia

Papalia dan rekannya (2007) menjelaskan bagaimana untuk mengobati penderita anorexia dan bulimia. Untuk penderita anorexia yang menunjukkan gejala yang amat parah, mereka dapat dirujuk ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan 24 jam. Mereka bisa diberi obat nafsu makan, memberi penghargaan kalau mereka mau makan seperti boleh keluar kamar. Setelah keadaan mereka membaik, mereka diajarkan untuk makan secara seimbang, diet yang sehat, serta mengatur stress.

Begitu pula pada penderita bulimia, mereka juga membutuhkan perawatan 24 jam untuk dimonitor. Mereka diajarkan untuk menerapkan pola makan dan hidup yang sehat serta menghindari keinginan untuk makan berlebihan. Jika penderita memilki resiko depresi dan bunuh diri, langkah pengobatan dengan obat bius dapat dilakukan.

Impulse Control Disorders

Impulse Control Disorders adalah keadaan di mana penderita tidak dapat menahan melakukan aktivitas yang mengakibatkan penderita akan merasa bersalah dan menyesal pada akhirnya. Contoh dari gangguan ini adalah kleptomania (keinginan untuk mencuri untuk kepuasaan perasaan), pathological gambling (keinginan untuk berjudi walaupun telah menderita karenanya), dan trichotillomania (keinginan untuk mencabut rambut, seperti rambut kepala, alis, dan bulu mata.

Personality Disorders

Personality Disorders adalah keadaan di mana penderita memiliki pandangan tersendiri akan pribadi, kelakuan, emosi, dunia yang berbeda bahkan menyimpang dari konsensus masyarakat. Personality Disorders dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Schizoid: ketidaknyamanan untuk berhubungan dengan orang lain dan keterbatasan menyampaikan perasaan/emosi.
  2. Paranoid: kecenderungan untuk selalu tidak percaya dengan orang lain.
  3. Schizotypal: kesusahan untuk membentuk hubungan dekat dengan orang lain dikarenakan perilaku.
  4. Antisocial: Ketidakhormatan dan pelanggaran terhadap hak orang lain.
  5. Borderline: Instabilitas pada hubungan dengan orang lain dan pandangan terhadap diri sendiri
  6. Histrionic: Kecenderungan untuk berekspresi lebih untuk mencari perhatian.
  7. Narcissistic: Kelakuan yang muluk dan bermegah-megah, mencari pengakuan, dan kekurangan empati.
  8. Avoidant: Ketidaknyamanan berada di situasi sosial, selalu merasa tidak bisa, dan selalu memikirkan timbal-balik yang negatif
  9. Dependent: Perasaan butuh perhatian dan bersikap tunduk akibat kebutuhan untuk dikasih-sayangi
  10. Obsessive-compulsive: Keasyikan dengan organisasi, kerapihan, kesempurnaan, dan kontrol.

What Social Workers Do in Mental Health

Social Workers dalam melakukan treatment pada penderita mental illness dapat mengkategorikan treatment-nya dalam tiga level, mikro, mezzo, dan makro.

Case Management in Micro Practice

Case Management adalah cara yang digunakan oleh social workers dalam membantu penderita mental illness. Tugas-tugas yang dapat dijalankan oleh case managers adalah: mengaji kebutuhan dan kelebihan klien, mengarahkan klien ke pelayanan, merencanakan strategi, memonitor kesesuaian dan keefektifan strategi  pelayanan, serta advocating klien jika diperlukan. Case managers juga dapat menyediakan layanan langsung, seperti crisis intervention, membantu klien memutuskan hal sulit, serta membantu klien mengatasi reaksi emosinya di saat-saat genting.

Micro Practice: Psychotheraphy

Psikoterapis professional sering digunakan dalam pengobata mental illness. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah cognitive theraphy. Namun, hal ini bukan berarti bahwa cognitive theraphy adalah satu-satunya pendekatan yang bisa digunakan. Seorang praktisi harus melakukan pengamatan dulu apa pendekatan yang paling cocok untuk klien.

The Use of Psychotropic Drugs to Treat Mental Disorders

Psikiater dan dokter telah menetapkan obat-obatan psikotropika untuk mengubah berpikir, suasana hati, dan perilaku. Berikut adalah kegunaan dan contoh nama merek obat tersebut (Bentley & Kogut, 2008; Walsh & Bentley, 2002):

  1. Obat antipsychotic yang digunakan untuk mengobati skizofrenia. Contohnya adalah chlorpromizine (Thorazine).
  2. Obat antidepressant bekerja dalam mengobati depresi dan gangguan kecemasan, terutama gangguan panik. Contohnya adalah amitriptyline (Amitril) dan fluoxetine (Prozac).
  3. Obat mood-stabilizing digunakan untuk mengobati gangguan bipolar. Contohnya adalah lithium karbonat (Lithium).
  4. Obat anti-anxiety yang digunakan untuk mengontrol gangguan kecemasan dan insomnia. Contohnya adalah zolpidem (Ambien) dan diazepam (Valium).
  5. Obat Psychostimulant digunakan untuk mengobati attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Contohnya adalah methylphenidate (Ritalin).

Terdapat kontroversi atas penggunaan obat-obatan psikotropika (Bentley & Kogut, 2008; Bentley & Walsh, 1998). Obat psikotropika telah menjadi andalan dalam perawatan kesehatan mental. Jadi penting bagi para profesional kesehatan mental untuk melakukan riset dan menggunakan obat ini dengan hati-hati. Obat psychotropic tidak akan menyembuhkan semua penyakit mental yang ada, karena masih banyak metode lainnya yang masih dikembangkan. 

Mezzo Practice: Running Treatment Groups

Treatment Groups membantu individu memecahkan masalah pribadi, mengubah prilaku yang tidak diinginkan, mengatasi stres, dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Tipe dari treatment group termasuk terapi, dukungan, edukasi, pertumbuhan, dan sosialisasi.

Mezzo Practice: Treating Families

Collins, Jordan, dan Coleman (1999) menyatakan bahwa tujuan utama dari pekerjaan sosial dengan keluarga adalah “untuk membantu keluarga agar berfungsi lebih baik untuk memenuhi kebutuhan perkembangan dan emosional semua anggota keluarga” dan terdapat 3 tujuan lainnya:

  1. Memperkuat kekuatan keluarga untuk mendapatkan keluarga yang siap untuk perubahan (atau intervensi)
  2. Memberikan dukungan tambahan serta terapi keluarga sehingga keluarga dapat mempertahankan fungsi keluarga yang efektif
  3. Membuat perubahan nyata di fungsi keluarga untuk mempertahankan efektifitas

Konseling keluarga dapat melibatkan hampir semua aspek komunikasi dan dinamika dalam keluarga. Masalah-masalah yang ada di dalam keluarga yang mungkin bisa mendapatkan pengobatan contohnya ketidakmampuan anggota keluarga untuk bergaul, ketidakmampuan orangtua untuk mengontrol perilaku anak-anaknya, perceraian, pernikahan kembali, atau krisis (misalnya, kematian salah satu anggota dalam keluarga, kehamilan yang tidak diinginkan, pengangguran, bencana alam).

Macro Practice in Mental Health

Para pekerja sosial bekerja dalam level makro kesehatan mental setidaknya terdapat tiga cara:

  1. Mereka dapat melakukan advokasi untuk perubahan positif atas nama kelompok besar klien.
  2. Pekerja sosial berfungsi sebagai manajer dan administrator dalam lembaga kesehatan mental dan dapat berusaha untuk memperbaiki kebijakan dan penyediaan layanan.
  3. Pekerja sosial dapat berusaha untuk mengembangkan program-program inovatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mental.

Evidence-Based Practice in Mental Health

Pekerja sosial dalam praktik ini bergantung pada pengetahuan dan bukti terbaik yang tersedia, untuk menetapkan apa yang dikerjakan. Hal ini, pekerja sosial menginformasikan bagaimana proses dalam perencanaan dan penerapan intervensi. Solomon (2008) mengidentifikasi lima tren dalam praktek kesehatan mental yang telah ditemukan untuk menjadi berbasis bukti dan efektif serta melibatkan berbagai aspek mikro, mezzo, dan makro.

  1. Comprehensive Community Support

Dukungan komunitas yang luas dan pengobatan melibatkan pembentukan tim profesional yang tersedia dalam masyarakat untuk bekerja. Pengembangan tim dan keterlibatan orang dengan penyakit mental di masyarakat akan memerlukan tindakan tegas dan memerlukan pengawasan yang ketat. Pendekatan ini akan fokus pada 10-20% orang yang memiliki penyakit mental dalam kondisi ekstrim yang membutuhkan monitoring secara terus menerus (Solomon, 2008). Tim akan membantu segala kebutuhan klien seperti mencari tempat tinggal, mendaftarkan dirinya kepelatihan vokasional, mencari pekerjaan,dan memastikan bahwa klien mendapatkan dan menggunakan obatnya secara teratur, atau membangun dan mendukung sistem mentoring. Ide ini dimaksud untuk menjaga orang-orang dengan penyakit mental supaya ikut berperan aktif dalam masyarakat dan memiliki kehidupan yang produktif.

  1. Family Education and Support

Bukti membuktikan bahwa mengedukasikan keluarga tentang penyakit mental dan mengajarkan anggota keluarga dalam memecahan masalah dan keterampilan mengatasi masalah memiliki hasil positif untuk orang dengan gangguan jiwa. Dengan edukasi yang cukup, anggota  keluarga bisa membantu klien dalam menjalani hidup sehat di dalam komunitas.

  1. Work Encouragement and Assistance

Pemberian pendampingan dan dorongan untuk bekerja membantu klien dalam menyiapkan, mencari, dan menjalankan pekerjaannya dengan baik. Program ini harus memberikan dukungan yang berkelanjutan bukan terbatas pada pengobatan. Bukti menunjukan pekerjaan akan membantu diri klien dalam hidup di komunitas.

  1. Coordinated Treatment for Concurrent Substance Abuse Issues

Arus lingkungan perawatan kesehatan menekankan pengobatan untuk diagnosis spesifik. Oleh karena itu, orang dengan gangguan kejiwaan akan menerima diagnosis dan dirawat oleh seorang profesional menurut kriteria organisasi kesehatan dunia. Advokasi diperlukan untuk mengubah sistem penyediaan pelayanan kesehatan sehingga hal ini akan memungkinkan untuk mendukung perawatan yang efektif yaitu, lebih terkoordinasi, komprehensif.

  1. Educational and Coping Skill Development Groups

Pendekatan praktek terbaik berdasarkan bukti kelima untuk orang dengan masalah kesehatan mental melibatkan pembentukan kelompok klien. Tujuannya adalah untuk membantu anggota kelompok lebih memahami kondisi kejiwaan mereka dan mengembangkan metode untuk mengatasinya. Terdapat pertemuan yang dilakukan setiap minggunya selama 3 sampai 6 bulan yang bertujuan bagi klien tersebut menambah pengetahuannya dan keterampilannya dalam menyembuhkan dirinya sendiri. Anggota keluarga dan anggota lain dari sistem pendukung klien juga bisa menghadiri dan belajar. Bukti menunjukkan bahwa kambuhnya seorang dengan gangguan kejiawaan menurun, meningkatkan kepatuhan terhadap jadwal pengobatan, dan meningkatkan pengembangan dan penggunaan mengatasi keterampilan untuk mengontrol perilaku mereka.

Managed Care Policies and Programs in Mental Health

Dua prinsip utama yang dipromosikan oleh pengelola perawatan yaitu mempertahankan kualitas dan akses dengan biaya murah. Dengan kata lain, perawatan harus siap diakses dan berkualitas tinggi, namun semurah mungkin. Untuk meminimalisasi biaya, digunakan alat-alat murah untuk menyembuhkan klien. Contohnya ketika klien harus masuk kerumah sakit psikiatri, namun biayanya tidak murah, ada tekanan untuk membuat klien berada di rumah sakit itu sesingkat mungkin. Padahal klien jelas membutuhkan jasa itu dalam jangka waktu panjang untuk bisa sembuh.

Cultural Competence in Mental Health Settings

Kompetensi budaya telah didefinisikan sebagai “himpunan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh pekerja sosial agar menjadi efektif saat berhubungan dengan klien multicultural”

Terdapat tiga alasan mengapa kompetensi budaya ini penting

  1. Orientasi kebudayaan dalam hal nilai-nilai tradisi, dan keyakinan klien dan pekerja sosial sering konflik dengan system kesehatan mental yang ada,
  2. Biasanya klien ini berasal dari low-income class
  3. Mereka memiliki status sosio ekonomi yang lebih rendah dan jelas berhubungan dengan penyakit mental

Barriers to Receiving Mental Health Services

  1. Lack of Help-Seeking Behavior

Untuk menerima layanan, orang harus mengakui bahwa ada masalah dan mencari bantuan untuk mengatasinya. Namun masih banyak golongan yang merasa dirinya tidak ada masalah sehingga ia pun tidak bergerak mencari pertolongan. Hal itu terjadi karena orang dari golongan bawah cenderung menerima saja keadaan mereka.

Tradisi kuno budaya penduduk di Asia dan Pasifik adalah mengatur pernikahan untuk memastikan bahwa seseorang keturunan bersatu dengan pasangan yang sesuai untuk tujuan utama prokreasi. . . . karena penyakit mental diyakini diwariskan secara genetik, bukti penyakit mental di garis keturunan keluarga bisa membuat keturunan mereka tidak cocok untuk menikah.

  1. Mistrust

Adanya rasa ketidakpercayaan yang dirasakan orang-orang yang membutuhkan pelayanan ini.  Misalnya, African Americans yang tidak mencari pertolongan atas dirinya karena adanya perlakuan diskriminasi dan rasisme ketika mereka mencari pertolongan.

  1. Stigma

Stigma adalah pandangan negative yang menimbulkan malu dan celaan dari orang lain atas reputasi seseorang. Contohnya adalah orang berkulit hitam yang sering diberi label sakit mental (USDHHS, 1999). Penyakit mental seorang anggota keluarga juga sering menjadi hal yang memalukan sehingga harus dijadikan sebuah rahasia. Dengan begitu, individu dengan penyakit mental ini tidak dapat disembuhi.

  1. Cost

Biaya bukan sebagai penghalang untuk orang kulit berwarna untuk menggunakan layanan kesehatan mental (Dulmus & Roberts, 2008; USDHHS, 1999). Terdapat golongan bawah yang mempunyai pendapatan lebih kecil dari pada golongan atas tidak mendapatkan akses kesehatan yang layak, sehingga memperlambat proses penyembuhan.

  1. Clinician Bias

Prasangka dokter adalah penghalang kelima orang kulit berwarna memanfaatkan layanan kesehatan mental (Dulmus & Roberts, 2008; USDHHS, 1999). Bagaimana dokter menilai dan merasakan keadaan emosi serta gejala perilaku seseorang secara langsung berhubungan dengan diagnosis. Dokter yang tidak terbiasa dengan budaya kebiasaan, keyakinan, nilai-nilai dan perilaku yang berbeda dengannya mungkin bisa salah mendiagnosa masalah. Perilaku yang berbeda mungkin bisa dipertimbangkan secara tidak tepat oleh orang-orang barat.

Macro Perspectives on Cultural Competence

Dari perspektif level makro, Sue dkk mengatakan (1998), tidak hanya lembaga kesehatan mental yang perlu untuk “Mempekerjakan individu dengan keterampilan konseling multikultural, tetapi lembaga itu sendiri perlu memiliki ‘multikultural budaya“. Administrator harus memberdayakan anggota staf dengan membantu mereka mengembangkan dan mempekerjakan keterampilan kompetensi secara budaya. Agen harus peka terhadap budaya perspektif klien mereka dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Layanan apapun yang diberikan untuk kelompok budaya dipandang penting sebagai bagian dari paket total sebuah program. Lembaga budaya yang mahir berusaha untuk memperluas pengetahuan tentang kompetensi budaya dengan “melakukan penelitian, mengembangkan pendekatan berdasarkan budaya, dan menyebarluaskan hasil proyek percontohan “(Cross et al., 1989, hal. 17) Organisasi seperti melayani sebagai model dinamis untuk pengembangan program kreatif yang berfokus pada kompetensi budaya dalam program lain.

REFERENSI

[1] Zastrow, Charles. 2010. Introduction to Social Work and Social Welfare. 10th edition. Pacific Grove: Brooks/Cole Publishing Company.

[2] Kirst-Ashman, Karen K. 2010. Introduction to Social Work and Social Welfare, Critical Thinking Perspective. Third Edition. Belmont: Brooks/Cole

 

Sumber gambar : Anneahira.com.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: